Bumi Datar dan Agama Islam

Posisi kami adalah kami tak membahas masalah bentuk Bumi dari sudut pandang akidah Agama. Bentuk Bumi merupakan masalah fisik yang perlu disimpulkan berdasarkan pengamatan fisik pula. Yang kami bahas selama ini hanyalah masalah-masalah praktis ilmu falak, atau aplikasi dari ilmu astronomi dan geodesi untuk keperluan ibadah Agama Islam.

Sayangnya beberapa korban Bumi datar selalu mengalihkan pembicaraan ke masalah akidah. Berikut adalah beberapa respon kami terhadap mereka dengan tetap menghindari terjebak dalam perdebatan mengenai tafsir agama dan sejenisnya.

Ibadah Agama Islam dan Bumi Bulat

Fakta yang paling utama untuk disampaikan ke korban-korban Bumi datar adalah bahwa beberapa ibadah Agama Islam menggunakan hasil perhitungan yang menggunakan model Bumi bulat:

  • Arah kiblat
  • Waktu shalat
  • Penentuan awal Bulan Hijriah.
  • Waktu terjadinya gerhana, untuk jadwal shalat gerhana.

Ini adalah keunikan Agama Islam. Walaupun begitu, di jaman sekarang tidak banyak pemeluk Agama Islam yang mengetahui hal ini. Biasanya perhitungan-perhitungan tersebut sudah dilakukan oleh lembaga agama atau Kementerian Agama, dan umat Islam hanya perlu menggunakan hasil akhirnya, tanpa perlu memahami darimana hasilnya didapatkan. Itu sebabnya bahkan umat Islam yang ibadahnya menggunakan Bumi bulat pun bisa saja terjerumus ke dalam indoktrinasi Bumi datar.

Pengutipan, Tafsir dan Cocoklogi Ayat-Ayat

Kaum Bumi datar sering mengutip ayat-ayat sebagai “bukti” Bumi datar, manusia tak pernah ke luar angkasa, Matahari mengelilingi Bumi, atau hal lainnya. Umumnya kami kutipkan saja isi Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 86:

… hingga ketika dia telah sampai di tempat matahari terbenam, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam.

Jika diinterpretasikan secara harfiah, maka ayat tersebut bertentangan dengan konsep Bumi datar. Di sini korban Bumi datar akan terpaksa memilih salah satu dari tiga pilihan:

  1. Menyimpulkan Al-Quran itu salah.
  2. Menyimpulkan konsep Bumi datar salah (dan Matahari memangi benar-benar terbenam di dalam laut berlumpur hitam).
  3. Menerima bahwa ada ayat-ayat yang tak dapat ditafsirkan secara harfiah, termasuk ayat ini, dan juga ayat-ayat lain yang sering disalahgunakan oknum-oknum Bumi datar untuk menyebarkan paham Bumi datar.

Jika si korban Bumi datar tetap ingin mempertahankan agama dan kepercayaan Bumi datarnya, maka mau tak mau dia harus memilih nomor 3, dan dengan demikian setidaknya dia tidak dapat lagi menggunakan ayat-ayat sebagai ‘bukti’ Bumi datar.

Ijma Ulama

Beberapa korban Bumi datar mengklaim ada ijma atau kesepakatan ulama yang mengatakan Bumi datar. Jika demikian, sampaikan saja informasi bahwa ibadah Agama Islam menggunakan perhitungan Bumi bulat, dan ulama yang tak paham bahwa Bumi berbentuk bulat tidak akan mampu melakukan ibadah wajib seperti shalat dan puasa Ramadan dengan praktis dan efektif.

Mereka yang begitu hanya dapat, misalnya, menentukan waktu shalat menggunakan rukyat dengan mengamati posisi Matahari secara visual, minimal lima kali dalam satu hari.

Dengan demikian, masalahnya menjadi mengapa mereka bisa sampai mendapat atribut ulama.

Museum Asmaul Husna, Madinah

Di kompleks Mesjid Nabawi, Madinah terdapat Museum Asmaul Husna. Di dalamnya terdapat informasi dan alat peraga bahwa Bumi bulat dan mengelilingi Matahari. Museum ini tak sulit untuk dikunjungi oleh umat Islam saat melakukan ibadah Umrah.

Fatwa Bin Baz

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz adalah ulama Arab Saudi. Oknum-oknum Bumi datar mengklaim Bin Baz menetapkan bahwa Bumi datar. Hal tersebut dapat dibuktikan salah di situs webnya: كروية الأرض

Membumikan Al-Qur’an

Oknum-oknum Bumi datar sering membenturkan ilmu pengetahuan dan agama. Referensi yang baik untuk masalah tersebut adalah esai “Membumikan Al-Quran” dari Dr. Quraish Shihab. Kutipan dari kesimpulan esai tersebut:

Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapatnya mengenai terjadinya planet-planet tata surya. Ia boleh berkata bahwa ia berasal bola gas yang berotasi cepat, yang lama kelamaan pecah dan terpisah-pisah menjadi planet-planet kecil akibat panas yang sangat keras. Ia juga dapat menyatakan bahwa terjadinya planet sebagai akibat tabrakan antara dua matahari, atau disebabkan karena pecahnya matahari itu sendiri, dan lain-lain. Setiap orang bebas dan berhak untuk menyatakan apa yang dianggapnya benar, tetapi ia tidak berhak untuk menguatkan pendapatnya dengan ayat tersebut dengan memahaminya lebih dari apa yang tersimpul didalamnya. Karena dengan demikian ia menjadikan pendapat tersebut sebagai satu akidah dari ‘aqidah Quraniyyah. Dan ia juga tidak berhak untuk menyalahkan satu teori atas nama Al-Quran kecuali bila ia membawakan satu nash yang membatalkannya.

Bumi dan Telur Burung Unta

Beberapa pendukung Bumi bulat menggunakan interpretasi Zakir Naik “Bumi berbentuk telur burung unta.” Menurut kami ini tetaplah cocoklogi walau kesimpulannya benar. Lebih baik hindari melakukan cocoklogi seperti ini. Bentuk Bumi adalah masalah fisik, yang bisa disimpulkan melalui pengamatan fisik pula.

Selain itu, telur burung unta itu berbentuk ‘prolate spheroid’ (lonjong), sedangkan Bumi berbentuk ‘oblate spheroid’ (gepeng). Jadi sebenarnya analogi tersebut tidak akurat.

Arah Kiblat

Arah kiblat di seluruh dunia adalah bukti Bumi bulat. Hanya perhitungan arah kiblat menggunakan model bumi Bulat yang akan memberikan hasil yang sesuai dengan peristiwa Istiwa A’zam. Saat itu, posisi Matahari sedang berada di atas Kakbah, dan umat Islam di seluruh dunia dapat menentukan arah kiblat dengan cara mengamati Matahari.  Peristiwa ini terjadi setiap tahunnya pada tanggal 27-28 Mei atau 15-16 Juli.

Untuk perbandingan perhitungan arah kiblat pada Bumi bulat dan Bumi datar, silakan cek situs kalkulator kiblat kami di kiblat.bumidatar.id.

Arah Vertikal Kiblat

Ada kaum Bumi datar yang setelah mendapat informasi kiblat merupakan hasil perhitungan Bumi bulat, dia akan menyebutkan bahwa orang yang shalat di belahan dunia lain tidak akan mengarah kiblat karena adanya lengkungan Bumi.

Hal ini hanyalah bentuk keputusasaan dari korban-korban Bumi datar: “Walaupun kiblat tidak mungkin dihitung dengan Bumi datar, setidaknya di Bumi bulat arah kiblat juga tidak mengarah ke Kakbah karena permukaan Bumi yang melengkung,” barangkali itu yang ada dalam benak mereka.

Tata cara shalat adalah ketentuan ibadah agama, dan tidak ada ketentuan untuk ‘menungging’ agar kita menghadap kiblat secara lurus line-of-sight akibat lengkungan Bumi atau sebab yang lain. Tidak adanya ketentuan tersebut tentunya bukan “bukti” Bumi datar.

Jika yang bersangkutan tidak dapat menerima penjelasan tersebut, mari kita persilakan yang bersangkutan untuk menyampaikan keberatannya ke forum agama, karena hal ini sudah menyangkut soal fiqih, dan di luar konteks ilmu falak.

Yang kami bahas di sini adalah tata cara penentuan arah kiblat yang digunakan oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia. Bisa saja ada aliran agama Islam yang berbeda dari yang dianut oleh mayoritas umat Islam, tetapi bukan itu yang kami bahas di sini, dan kami tidak bermaksud untuk membahas benar atau salahnya hal tersebut dari sudut pandang fiqih agama.

Arah kiblat yang sesuai dengan tata cara shalat mayoritas umat Islam di dunia sudah jauh lebih dari cukup sebagai bukti Bumi bulat, termasuk bagi aliran agama Islam yang tidak mengakui tata cara penentuan arah kiblat tersebut, dan bahkan bagi non-Muslim sekali pun.

Tidak Disebutkan dalam Dalil Bahwa Bumi Bulat dan Mengelilingi Matahari

Ada banyak hal yang tidak disebutkan dalam dalil. Indonesia, Antartika dan Amerika tidak pernah disebutkan dalam dalil Agama. Tetapi kita tahu ada Indonesia, Antartika dan Amerika. Menerima adanya Indonesia, Antartika dan Amerika tak dapat diartikan menentang Agama.

Penentuan Awal Bulan Hijriyah di Indonesia Dilakukan dengen Rukyatul Hilal, Bukan Perhitungan/Hisab

Tidak semua pihak menggunakan rukyat sebagai penentu awal Bulan Hijriyah. Muhammadiyah menggunakan hisab, bukan rukyat.

Bagi yang menganut metoda rukyatul hilal, tetap memanfaatkan hasil perhitungan menggunakan model Bumi bulat sebagai alat bantu, misalnya untuk mengarahkan teleskop ke posisi Bulan yang saat itu masih sangat sulit untuk dilihat.

Yang menjadi kontroversi rukyat vs hisab hanyalah hilal awal bulan. Untuk keperluan ibadah lain seperti arah kiblat dan waktu shalat, semua pihak sepakat sah-sah saja ditentukan melalui hisab/perhitungan.

Kontroversi rukyat vs hisab bisa saja terjadi, tetapi hal tersebut tidak mengubah fakta bahwa hanya perhitungan dengan menggunakan model Bumi bulat yang dapat memprediksi kejadian hilal dengan pasti jauh-jauh hari sebelumnya. Hal tersebut sudah cukup menjadi bukti Bumi bulat bagi siapapun, termasuk bagi pihak yang menganut metode rukyatul hilal, dan bahkan bagi non-Muslim sekalipun.

Penjelasan lebih lengkap: Menentukan Hilal Melalui Metode Rukyat dan Hisab

Astronot Muslim

Ada beberapa astronot Muslim yang pernah pergi ke luar angkasa. Saat artikel ini ditulis, jumlahnya ada 10. Daftar lengkapnya silakan cek artikel Wikipedia: List of Muslim astronauts.

Referensi Ilmu Falak

Banyak korban Bumi datar tetap ngotot dan tidak mau percaya bahwa ibadah Agama Islam dilakukan menggunakan hasil perhitungan Bumi bulat. Untuk itu kita dapat sampaikan beberapa referensi ilmu falak dari lembaga agama terkemuka di Indonesia sebagai berikut:

Dari ketiga referensi tersebut seharusnya sudah cukup untuk membuktikan bahwa ibadah dalam Agama Islam tergantung pada pengetahuan kita mengenai bentuk Bumi yang sebenarnya, yaitu bulat.

Ibadah Saat Jaman Nabi Muhammad

Beberapa kaum Bumi datar mempermasalahkan bahwa ibadah yang dilakukan saat jaman Nabi Muhammad tidak dilakukan menggunakan hisab/perhitungan. Hal tersebut terjadi bukan karena wajib seperti itu, tetapi karena dulu tidak ada kebutuhan dan/atau belum ada teknologinya.

Arah Kiblat

Arah Kiblat saat itu kemungkinan ditentukan dengan metode dead reckoning. Jika bepergian dari Mekah ke Timur, maka arah Kiblat adalah Barat. Jaman itu umat Islam hanya terkonsentrasi di Jazirah Arab saja, dan metode tersebut sudah cukup untuk kebutuhan mereka.

Baru pada saat umat Islam berkembang, ada kebutuhan untuk menentukan arah kiblat dari tempat yang jauh dari Mekah. Itu sebabnya umat Islam abad 9-12 menjadi salah satu pengembang ilmu trigonometri bola karena mereka membutuhkannya untuk menghitung arah Kiblat di permukaan Bumi yang bulat.

Waktu Shalat

Mengenai waktu shalat, dulu dilakukan melalui pengamatan posisi Matahari dan kondisi langit. Yang membedakan adalah bahwa saat ini sudah ada teknologi untuk mengetahui waktu kejadian astronomis tersebut akan terjadi, jauh sebelum benar-benar terjadi. Hal tersebut tentunya dilakukan menggunakan pengetahuan bentuk Bumi bulat. Pengetahuan tersebut menghasilkan tabel waktu shalat, situs web penghitung, aplikasi adzan, dan sebagainya.

Kaum Bumi datar yang tidak bersedia menerima Bumi itu bulat tetap bisa menjalankan ibadahnya dengan melakukan pengamatan astronomis secara visual seperti yang dilakukan di jaman Nabi, dan hal tersebut tetap valid dan sah untuk dilakukan.

Namun bukan berarti kita yang menggunakan teknologi untuk mengetahui waktu shalat itu tidak valid. Justru kesamaan antara hasil observasi visual dan hasil perhitungan menggunakan model Bumi bulat merupakan bukti bahwa Bumi itu bulat.

Shalat Gerhana

Jaman dulu, shalat gerhana dilakukan secara mendadak jika teramati berlangsungnya fenomena gerhana. Jaman sekarang, shalat gerhana dapat dijadwalkan beberapa minggu sebelumnya. Mesjid-mesjid dapat menentukan Imam shalat dan merencanakan acara lain yang berkaitan.

Kaum Bumi datar di jaman modern ini tetap dapat melakukan shalat gerhana secara mendadak seperti yang dilakukan di jaman Nabi.

Tetapi bukan berarti kita yang menjadwalkan shalat gerhana jauh-jauh hari sebelumnya itu salah. Kita juga akan shalat di waktu yang persis sama dengan teman-teman korban Bumi datar yang melakukan shalat gerhana secara mendadak.

Kesamaan antara pengamatan gerhana dan prediksi gerhana yang dilakukan dengan menggunakan model Bumi bulat merupakan bukti Bumi itu bulat.

Hilal Awal Bulan

Jaman Nabi dahulu tidak ada pilihan lain selain untuk melakukan rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Hijriyah. Saat ini sudah ada teknologi untuk menentukan awal bulan Hijriyah jauh-jauh hari sebelumnya. Ada pihak yang berpendapat penentuan awal bulan bisa melalui perhitungan Bumi bulat. Namun ada juga pihak yang berpendapat hilal perlu dilakukan dengan rukyat/pengamatan visual karena itu merupakan bagian dari ibadah.

Mereka yang tak paham Bumi itu bulat tidak memiliki pilihan selain melakukan pengamatan hilal secara visual. Namun kesamaan antara observasi visual dan hasil perhitungan menggunakan Bumi bulat sudah cukup sebagai bukti bahwa Bumi itu bulat bagi siapapun, termasuk bagi yang menganut metode rukyatul hilal, dan bahkan bagi non-Muslim sekalipun.