Bintang-Bintang Circumpolar dari Indonesia

Indonesia memiliki posisi di sekitar khatulistiwa. Hal ini mengakibatkan posisi sumbu rotasi bintang terlihat dekat dengan horizon, dan nyaris tak ada bintang terang yang bersifat circumpolar, atau selalu berada di langit.

Korban-korban konsep Bumi datar yang berada di Indonesia sering mendapat meme dari luar negeri bahwa banyak bintang yang selalu terlihat di langit. Mereka berasumsi fenomena yang sama juga terjadi di Indonesia dan turut menyebarkan meme tersebut tanpa melakukan verifikasi.

Seandainya saja mereka melakukan verifikasi, tak terlalu sulit untuk mengetahui bahwa nyaris tidak ada bintang terang yang selalu terlihat di langit Indonesia, dan situasi di Indonesia tidak sama dengan apa yang disampaikan meme terseut. Perbedaan kenampakan antara Indonesia dan lokasi oknum pembuat meme adalah konsekuensi dari bentuk Bumi yang bulat.

Database SIMBAD mencatat hanya ada delapan bintang dengan magnitudo di bawah 4,5 yang berpotensi selalu terlihat pada sebuah lokasi di Indonesia. Bintang dengan magnitudo tersebut dapat dilihat dengan mata telanjang dari pinggiran kota, atau dengan alat bantu binokular dari dalam kota.

Di Jakarta & Surabaya hanya terlihat satu bintang circumpolar dengan magnitudo  di bawah 4,5. Di Jambi, Palembang, Ambon & Makasar dan lokasi-lokasi lain ke arah utara sampai khatulistiwa sama sekali tak ada bintang circumpolar dengan magnitudo di bawah 4,5.

Di utara khatulistiwa ada bintang Polaris dengan magnitudo 2 yang relatif terang. Tetapi selain itu hanya ada dua bintang lain dengan magnitudo 4, itu pun hanya akan terlihat di lokasi di ujung utara seperti Banda Aceh atau Miangas.

Selain itu, semua bintang-bintang tersebut juga berposisi rendah mendekati horizon. Hal ini menjadikan pengamatan menjadi lebih sulit lagi karena cahaya bintang perlu melewati atmosfer Bumi yang lebih tebal. Bintang akan terlihat lebih redup daripada jika bintang tersebut terlihat di atas, seperti yang terjadi di daerah yang lebih dekat ke kutub Bumi.

Bintang biduk (big dipper) tak selalu berada di langit di Indonesia. Suatu saat asterisme ini akan terbenam dan tak terlihat. Hanya pengamat yang berada jauh di utara (di utara 49°LU) yang dapat melihat bintang-bintang tersebut selalu di langit, seperti di Inggris, bagian utara Perancis dan bagian utara Amerika Serikat.


Lokasi paling utara di Indonesia adalah Pulau Miangas, Sulawesi Utara pada 5.57° LU. Dengan mengabaikan topologi dan refraksi atmosfer, di lokasi ini, sumbu rotasi bintang berada di utara, 5.57° di atas horizon. Akibatnya, hanya bintang yang berada maksimum 5.57° dari pusat rotasi bintang utara yang selalu terlihat di langit.

Jika pengamat bergerak dari Miangas ke selatan, posisi sumbu rotasi bintang utara akan berangsur-angsur bergerak mendekati horizon dan semakin sedikit bintang yang selalu terlihat. Saat pengamat di khatulistiwa, sumbu rotasi bintang tepat berada di horizon. Dan dengan demikian tak ada bintang yang selalu terlihat di posisi tersebut.

Jika pengamat bergerak ke selatan khatulistiwa, sumbu rotasi utara akan ‘terbenam’ di bawah horizon. Sebaliknya, di selatan akan terlihat ‘terbitnya’ sumbu rotasi bintang selatan. Semakin jauh ke selatan, semakin besar lingkar circumpolar ini dan semakin banyak bintang circumpolar yang terlihat.

Posisi Indonesia yang paling Selatan adalah Pulau Ndana di NTT, pada 11°LS. Pada lokasi ini, sumbu rotasi bintang selatan berada 11° di atas horizon, dan hanya bintang yang berjarak maksimum 11° dari sumbu rotasi bintang selatan yang dapat terlihat sepanjang malam, setiap malam.

Di posisi paling Utara Indonesia, hanya ada tiga bintang yang cukup terang dilihat dari kota kecil atau dari pinggiran kota (memiliki magnitudo kurang dari 4,5), yaitu bintang Polaris, Yildun dan HD 5848. Di posisi paling selatan Indonesia, hanya ada 5 bintang: Alpha Apus, Beta Octantis, Beta Chamaeleon, Delta Octantis dan Delta 2 Chamaeleon.

Referensi