Prediksi Gerhana Tak Perlu Menggunakan Siklus Saros atau Melibatkan NASA

Saat ini komputer memiliki kemampuan proses yang sangat tinggi. Untuk itu, prediksi gerhana biasanya dilakukan dengan memanfaatkan kemampuan komputer tersebut. Prediksi dilakukan dengan cara menentukan posisi Bulan dan Matahari pada satu waktu, dan menghitung apakah terjadi gerhana. Proses tersebut diulangi lagi berkali-kali untuk waktu yang berbeda.

Korban-korban dogma Bumi datar mempercayai tak ada yang bisa memprediksi gerhana dari perhitungan posisi Bulan dan Matahari. Mereka percaya NASA memprediksi gerhana dengan menggunakan siklus Saros, dengan cara menghitung selang waktu dari gerhana yang terjadi sebelumnya. Mereka salah.

Jaman sekarang, NASA menggunakan supercomputer mereka untuk menghitung gerhana. Untuk setiap waktu tertentu, mereka menghitung dari ephemeris, yaitu perhitungan posisi Bulan dan Matahari pada waktu tersebut; dan menentukan apakah terjadi terjadi gerhana, jenis gerhananya, dan jalur gerhana. Seluruh perhitungan tersebut diulang untuk waktu yang lain. Demikian seterusnya sampai diketahui seluruh sifat gerhana.

Tak hanya itu, NASA juga menggunakan data kontur permukaan Bumi dan Bulan untuk menghitung daerah terjadinya gerhana Matahari. Daerah terjadinya gerhana tak lagi berbentuk bundar atau lonjong di permukaan Bumi, tapi tak beraturan, seperti halnya kontur Bumi dan Bulan.

Kaum Bumi datar juga menyangka bahwa prediksi gerhana adalah monopoli NASA. Kenyataannya tidak begitu. Kita juga bebas untuk melakukan prediksi gerhana, dan itu dapat dilakukan tanpa siklus Saros. Hasilnya pun akan sama seperti kenyataan.

Prediksi gerhana adalah hal yang dapat dilakukan siapa saja, asalkan ilmu yang dimiliki mencukupi. Hanya karena oknum-oknum pencetus Bumi datar ini tak memiliki ilmu yang cukup untuk memprediksi gerhana, bukan berarti anda juga tak mampu.

Untuk demonstrasi, kami telah membuat sebuah script Python yang sangat sederhana untuk memprediksi gerhana Bulan pada abad ke-21. Script tersebut tak lebih dari 20 baris, dan seharusnya siapapun yang mengerti bahasa pemrograman tak akan kesulitan untuk mempelajarinya.

Source code

#!/usr/bin/env python
'''
lunar-eclipse-prediction.py

Shows the occurences of a lunar eclipse in the 21st century.
Works by iterating every hour in the 21st century and calculating if the
separation between the Moon and the Sun is less than 0.9° from 180°.
The number 0.9° is hardcoded for simplicity, for more accuracy, it
should be computed from the distance of the Moon and the Sun.
'''
import ephem
from datetime import datetime, timedelta

curtime = datetime(2001, 1, 1, 0, 0, 0) # start time
endtime = datetime(2100, 12, 31, 23, 59, 59) # end time
moon = ephem.Moon()
sun = ephem.Sun()
observer = ephem.Observer()
observer.elevation = -6371000 # place observer in the center of the Earth
observer.pressure = 0 # disable refraction

while curtime <= endtime:
    observer.date = curtime.strftime('%Y/%m/%d %H:%M:%S')

    # computer the position of the sun and the moon with respect to the observer
    moon.compute(observer)
    sun.compute(observer)

    # calculate separation between the moon and the sun, convert
    # it from radians to degrees, substract it by 180°
    sep = abs((float(ephem.separation(moon, sun))
          / 0.01745329252) - 180)

    # eclipse happens if Sun-Earth-Moon alignment is less than 0.9°.
    # this should detect all total and partial eclipses, but is
    # hit-and-miss for penumbral eclipses.
    # the number is hardcoded for simplicity. for accuracy it should
    # be computed from the distance to the Sun and the Moon.
    if sep < 0.9:
        print(curtime.strftime('%Y/%m/%d %H:%M:%S'), sep)
        # an eclipse cannot happen more than once in a day,
        # so we skip 24 hours when an eclipse is found
        curtime += timedelta(days = 1)
    else:
        # advance an hour if eclipse is not found
        curtime += timedelta(hours = 1)

Pembaharuan dapat dilihat di repository GitHub kami: flatearthws/eclipse-calculations

Referensi