“Bumi Bulat”: Permainan Semantik

Bumi sebenarnya tidak bulat sempurna. Diameter Bumi lebih panjang di khatulistiwa daripada diameter antar kutub. Bentuk ini dinamakan ‘oblate spheroid’. Perbedaan panjang diameter tidak besar, hanya 0,33% saja. Oleh karena itu masih bisa dikatakan sah saja menyebut Bumi berbentuk bulat.

Namun, kadang-kadang ada saja yang mempermasalahkan urusan ini. Katanya “Bumi tidak bisa dibilang bulat” karena fakta ini. Biasanya pendapat ini dikemukakan kaum Bumi datar yang sudah putus asa dan tidak dapat lagi mempertahankan argumennya. “Saya tidak bisa mempertahankan argumen Bumi datar, minimal dia juga tidak bisa menyebut Bumi bulat,” mungkin begitu yang ada di pikirannya.

Ini dinamakan trik ‘berdiskusi’ “red herring”, atau lebih spesifik lagi “argumentum ad dictionarium”. Modus operandinya adalah menggeser pembicaraan mengenai bentuk Bumi menjadi permainan semantik, yaitu perdebatan mengenai arti kata. Jika terjebak, penulis harus terlibat dalam diskusi tentang definisi kata ‘bulat’ yang sama sekali tidak produktif.

Jika hal ini terjadi, biasanya penulis lebih suka menghindari debat tidak produktif ini. Silakan saja anggap saya kalah debat, dan kita sebut Bumi berbentuk ‘oblate spheroid’. Paling ongkos yang harus dikeluarkan adalah saya harus menulis 15 huruf (‘oblate spheroid’), dibanding 5 (‘bulat’) untuk berkomunikasi dengan yang bersangkutan.

Namun untuk terakhir kalinya, mari kita coba bahas sifat ‘bulat’ melalui perbandingan dengan bola bilyar.

WPA Pool mendefinisikan spesifikasi bola bilyar sebagai berikut:

All balls must be composed of cast phenolic resin plastic and measure 2 ¼ (+.005) inches [5.715 cm (+ .127 mm)] in diameter and weigh 5 ½ to 6 oz [156 to 170 gms].

Jika dihitung, maka toleransi deviasi diameter bola bilyar adalah 0,44%. Jika ukuran Bumi diperkecil secara proprosional sampai ukurannya sebesar bola bilyar, maka ukuran Bumi akan memenuhi standar bola bilyar.

Apakah dapat kita sebut bola bilyar bulat? Jika iya, maka sah-sah saja menyebut Bumi bulat.

Ini berlaku pula untuk benda bulat lainnya. Jika syarat sebuah benda disebut ‘bulat’ adalah bulat sempurna, maka praktis tidak akan ada benda seperti itu, karena dapat dipastikan akan ada ketidaksempurnaan. Jika sebuah alat ukur bisa menghasilkan kesimpulan ‘bulat sempurna’, kemungkinan besar akan ada alat ukur lain dengan presisi yang lebih tinggi yang dapat mengukur ketidaksempurnaan pada benda tersebut.

Jadi, jika menurutmu Bumi tidak bulat hanya karena bulatnya tidak sempurna, jangan pernah sebut benda lain bulat.

Referensi