Refraksi Atmosfer

Gelombang cahaya tidak selalu bergerak lurus. Apabila melewati medium yang indeks biasnya berbeda, gelombang cahaya akan membelok. Peristiwa ini dinamakan refraksi atau pembiasan, dan fenomena tersebut dijelaskan menurut Hukum Snell.

Atmosfer Bumi memiliki kerapatan dan temperatur yang tergantung dari ketinggian, sehingga indeks bias akan berbeda untuk ketinggian yang berbeda. Oleh karena itu gelombang cahaya yang melewati atmosfer Bumi juga mengalami refraksi.

Refraksi atmosfer adalah fenomena alam yang nyata. Masalahnya fenomena refraksi ini disalahgunakan oleh penganut Bumi datar untuk menjelaskan peristiwa terbenamnya Matahari.

Lanjutkan membaca “Refraksi Atmosfer”

Earthshine: Bukti Bulan Menutupi Matahari Saat Terjadi Gerhana Matahari Total

Beberapa penganut Bumi datar berpendapat bahwa gerhana Matahari tidak disebabkan oleh tertutupnya Matahari oleh Bulan, tetapi karena Matahari tertutup oleh sebuah ‘benda selestial’ yang misterius.

Alasannya adalah keberadaan Bulan tak dapat diamati saat terjadinya gerhana. Dan model gerhana seperti ini tidak kompatibel dengan keyakinan mereka mengenai pergerakan Matahari dan Bulan.

Sebenarnya ada cara untuk membuktikan Bulan yang menutupi Matahari. Cara ini sangat langsung dan sederhana, dan tidak membutuhkan pengamatan yang teliti atau perhitungan yang rumit.

Lanjutkan membaca “Earthshine: Bukti Bulan Menutupi Matahari Saat Terjadi Gerhana Matahari Total”

Sudut Datangnya Sinar Matahari

Jika cahaya Matahari sejajar, lalu mengapa pada ilustrasi gerhana selalu digambarkan bersudut?

Matahari memancarkan sinar ke segala arah. Tetapi karena jaraknya sangat jauh dari Bumi, maka sinar Matahari yang diterima Bumi memiliki sudut yang hampir sejajar. Dari sinar-sinar dari Matahari yang mencapai tempat yang sama di Bumi secara langsung, perbedaan maksimum arah datangnya sinar adalah 0.53°.

Lanjutkan membaca “Sudut Datangnya Sinar Matahari”

Al-Biruni: BUKAN Penganut Bumi Datar

Salah satu modus operandi influencer Bumi datar adalah dengan dengan cara mencatut agama atau tokoh agama. Tujuannya adalah untuk mendekatkan paham ini dengan agama dan pengikut-pengikutnya. Karena di Indonesia agama terbesar adalah Islam, maka wajar apabila mereka mencari korban di kalangan umat Islam. Salah satu tokoh agama yang dicatut ini adalah Al-Biruni.

Tapi, tentu saja, sekali lagi, Al-Biruni bukanlah penganut paham Bumi datar.

Lanjutkan membaca “Al-Biruni: BUKAN Penganut Bumi Datar”

Gerhana Bulan: Bukti Awal Bumi Bulat

Abad 5 sebelum Masehi, umat manusia sudah memprediksi bahwa Bumi berbentuk bulat berdasarkan pemikiran. Abad 4 sebelum Masehi, Anaxagoras membuktikannya melalui pengamatan pada gerhana Bulan. Anaxagoras adalah orang pertama yang berhasil memberikan penjelasan mengenai terjadinya gerhana Bulan, yaitu bahwa Bumi tepat berada di antara Matahari dan Bulan.

Anaxagoras berkesimpulan bahwa Bumi bulat dengan melihat bayangan Bumi pada bulan yang berbentuk melengkung.

Lanjutkan membaca “Gerhana Bulan: Bukti Awal Bumi Bulat”

Siklus Saros dan Prediksi Gerhana

Salah satu topik yang paling sering dibahas oleh penganut Bumi datar adalah Siklus Saros. Bangsa Babilonia mencatat sejarah terjadinya gerhana dan menggunakan data ini untuk memprediksi gerhana. Tetapi yang pertama kali menggunakan istilah ini bukanlah banga Babilonia, tetapi Edmund Halley pada tahun 1691.

Pada situs web NASA terdapat halaman Eclipses and The Saros, kemudian lalu disimpulkan oleh penganut Bumi datar bahwa NASA menggunakan Siklus Saros untuk memprediksi terjadinya gerhana. Premisnya adalah bahwa NASA, lembaga dengan anggaran milyaran USD tidak dapat menghitung gerhana menggunakan model matematis tata surya, tetapi menggunakan teknologi Babilonia 2500 tahun yang lalu.

Lanjutkan membaca “Siklus Saros dan Prediksi Gerhana”