Fenomena Magnetic Dip

Di kalangan penganut Bumi datar ada dua macam miskonsepsi mengenai interaksi antara jarum kompas dan magnet Bumi.

Miskonsepsi pertama adalah kompas tidak berfungsi dengan baik di daerah sekitar kutub, maka disimpulkan bahwa Bumi tidak bulat. Umumnya hal ini mereka simpulkan setelah mendengar hal ini dari cerita Admiral Byrd. Miskonsepsi kedua adalah kompas seharusnya tidak berfungsi pada Bumi bulat di daerah sekitar khatulistiwa. Menurut mereka, seharusnya kompas akan menunjuk arah yang miring dari permukaan Bumi, dan seharusnya kompas tidak dapat berfungsi pada Bumi bulat. Mereka salah.

Lanjutkan membaca “Fenomena Magnetic Dip”

Musibah MH370 dan Ketidakmampuan GPS Untuk Menentukan Lokasinya

Sistem GPS adalah satu arah. Satelit GPS mengirim sinyal. Penerima GPS menerima dan memproses sinyal-sinyal tersebut untuk menentukan lokasinya.

Penganut Bumi datar sering menunjukkan fakta bahwa kita tak dapat menentukan lokasi musibah MH370 sebagai ‘bukti’ bahwa GPS tak berfungsi dan dengan demikian tidak ada. Mereka salah. Satelit GPS sama sekali tak pernah menerima sinyal dari perangkat GPS, dan tak mungkin bagi mereka untuk menentukan lokasi MH370.

Lanjutkan membaca “Musibah MH370 dan Ketidakmampuan GPS Untuk Menentukan Lokasinya”

Perjalanan James Cook

James Cook melakukan tiga kali perjalanan yang terkenal. Yang sering dibahas dalam perbincangan mengenai Bumi datar adalah perjalanannya yang kedua. Pada perjalanan ini, James Cook ditugasi kerajaan Inggris untuk mencari benua Terra Australis. Benua Terra Australis merupakan hipotesis yang dulu diperkirakan berada di lautan Pasifik Selatan. Perjalanan James Cook membuktikan bahwa benua ini tidak ada.

Penganut Bumi datar menganggap perjalanan James Cook ini sebagai ‘bukti’ bahwa Antartika bukanlah benua, tetapi daratan besar yang mengelilingi Bumi. Dalihnya adalah James Cook melakukan perjalanan lebih dari 60000 mil, dan 60000 mil itu jauh lebih panjang daripada keliling Antartika. Mereka salah.

Lanjutkan membaca “Perjalanan James Cook”

Peta Polar Azimuthal-Equidistant: BUKAN Peta Bumi Datar

Penganut Bumi datar memiliki ‘peta’ yang mereka anggap sebagai ‘peta Bumi datar yang sesungguhnya’. Peta ini kebetulan saja memiliki bentuk yang sama dengan peta azimuthal-equidistant yang berpusat di kutub utara. Masalahnya adalah mereka menganggap peta polar azimuthal-equidistant sebagai peta Bumi datar, padahal sama sekali bukan.

Lanjutkan membaca “Peta Polar Azimuthal-Equidistant: BUKAN Peta Bumi Datar”

Perjalanan Mengelilingi Bumi yang Melewati Kedua Kutub

Menurut beberapa korban paham Bumi datar, tidak ada penjelajah yang berhasil mengelilingi Bumi melalui kedua kutub. Yang ada hanyalah penjelajah yang mengelilingi Bumi sejajar dengan garis khatulistiwa, seperti James Cook atau Ferdinand Magellan. Karena jika ada, maka runtuhlah teori Bumi datar dalam seketika.

Ternyata hal tersebut tidak benar. Ada beberapa penjelajah yang sudah pernah melakukan hal tersebut. Dari sekilas pencarian di Internet, kami dapat menemukan paling tidak ada tujuh penjelajah yang telah atau sedang melakukannya.

Lanjutkan membaca “Perjalanan Mengelilingi Bumi yang Melewati Kedua Kutub”

Google Maps, GPS dan Jangkauan Sinyal

“Jika berada di lokasi yang tidak terjangkau sinyal, maka GPS di ponsel saya tidak berfungsi dengan baik. Kesimpulannya GPS menggunakan tower BTS, bukan satelit.”

Itu adalah salah satu kesimpulan dari sebagian penganut Bumi datar. Yang dia maksud dengan ‘GPS’ di pernyataan tersebut tentu saja adalah aplikasi Google Maps atau semacamnya.

Lanjutkan membaca “Google Maps, GPS dan Jangkauan Sinyal”

Polaris: Tak Selamanya Menjabat Sebagai Bintang Kutub

Salah satu topik yang sering diangkat dalam komunitas korban paham Bumi datar adalah bintang Polaris. Klaimnya adalah posisi Polaris tidak pernah berubah, dan bintang lain terlihat mengelilingi Polaris. Hal ini dijadikan ‘bukti’ bahwa Bumi tidak berbentuk bulat dan tidak berotasi. Jika Bumi bulat dan berotasi, maka seharusnya posisi Polaris akan bergeser.

Ternyata memang posisi Polaris bergeser, walaupun hal tersebut bukan fenomena yang dapat diamati dalam satu malam saja, atau bahkan selama kurun waktu kehidupan kita.

Lanjutkan membaca “Polaris: Tak Selamanya Menjabat Sebagai Bintang Kutub”

Sextant: Menentukan Lokasi Dari Posisi Benda Langit

Sebelum ada penunjuk lokasi elektronik seperti GPS, pelaut dan penjelajah menggunakan alat yang dinamakan ‘sextant’ untuk mengukur sudut benda langit. Dari data tersebut kemudian dapat ditentukan lokasi pengamat di Bumi pada saat itu.

Ini dapat terjadi hanya karena Bumi Bentuknya Bulat.

Lanjutkan membaca “Sextant: Menentukan Lokasi Dari Posisi Benda Langit”

Bintang Utara Polaris

Teori Bumi datar umumnya menggunakan model bintang yang (karena suatu hal yang misterius) menempel pada kubah langit Bumi, yang (karena suatu hal yang misterius) bisa berputar sehingga menyebabkan gerakan bintang di langit. Poros perputaran adalah bintang Polaris, yang tampak tidak bergerak.

Namun tahukah kamu, Polaris tidak dapat dilihat dari selatan khatulistiwa. Lebih dari itu, selatan memiliki poros bintang sendiri.

Lanjutkan membaca “Bintang Utara Polaris”