Menentukan Hilal Melalui Metode Rukyat dan Hisab

Hilal adalah bulan sabit muda pertama yang dapat dilihat setelah terjadinya konjungsi pada arah dekat Matahari terbenam yang menjadi acuan dimulainya bulan baru dalam kalender Islam. Penentuan hilal penting untuk keperluan ibadah puasa Ramadan serta penentuan Hari Idul Fitri dan Idul Adha.

Kaum Bumi datar mengklaim hilal ditentukan hanya murni melalui pengamatan. Mereka salah. Penentuan hilal baik melalui hisab maupun rukyat, keduanya tergantung pada pemahaman yang benar mengenai bentuk Bumi yang sesungguhnya, yaitu bulat.

Ada dua metoda penentuan hilal yang dianut oleh umat Islam. Metoda rukyat dilakukan dengan mengamati langsung peristiwa hilal di langit saat Matahari terbenam. Jika hilal terlihat, hal tersebut menandakan bulan baru. Sedangkan metoda hisab menentukan awal bulan baru melalui perhitungan astronomis yang tentunya mengandalkan pengetahuan bentuk Bumi bulat.

Metode rukyat tetap menggunakan hisab sebagai alat bantu, dan dengan demikian juga tergantung pada pengetahuan Bumi bulat. Terkadang, untuk mengamati hilal hanya ada waktu beberapa menit saja, dan tidak ada waktu untuk mencari posisi Bulan secara manual, apalagi cahayanya masih redup dibandingkan dengan langit sore hari yang masih relatif terang. Dengan ilmu astronomi, pengamat bisa mengarahkan teleskopnya ke posisi Bulan saat itu, walau Bulannya sendiri belum terlihat. Tanpa pengetahuan tersebut, awal bulan Hijriyah bisa jadi perlu dimundurkan satu hari.

Penentuan awal bulan Hijriyah baik melalui hisab maupun rukyat yang telah dilakukan berabad-abad oleh umat Islam hanya konsisten dengan model Bumi bulat. Karena Bumi itu bulat, model Bumi datar sama sekali tidak berguna untuk menentukan hilal melalui hisab, maupun membantu proses penentuan hilal melalui rukyat.

Referensi