Gaya Hambat

Gaya hambat adalah gaya yang arahnya berlawanan dengan gerak benda relatif terhadap fluida di sekelilingnya. Besar gaya hambat berbanding lurus dengan kerapatan fluida tersebut.

Kaum Bumi datar mengklaim karena satelit tidak aerodinamis, maka tak mungkin bisa lebih cepat daripada pesawat. Faktanya, kerapatan udara pada ketinggian satelit kecil, tak menghasilkan gaya hambat besar; maka satelit tak perlu bentuk aerodinamis.

Lanjutkan membaca “Gaya Hambat”

Tuduhan Kultus Individu

Kaum Bumi datar gemar menuduh sains menerima ide karena kultus individu kepada orang yang menyampaikan ide tersebut. Faktanya, sains menerima ide karena kebenaran dari ide itu sendiri, bukan siapa pengusungnya.

Newton adalah salah satu ilmuwan paling berpengaruh. Tapi kita tak punya masalah mengatakan bahwa sebagian dari idenya keliru dan tidak ilmiah.

Lanjutkan membaca “Tuduhan Kultus Individu”

Asumsi Untuk Penyederhanaan Dalam Model Ilmiah

Featured Video Play Icon

Saat membuat model ilmiah dari fenomena yang rumit, kita menyederhanakannya menjadi bentuk yang sesederhana mungkin untuk membuat perhitungan menjadi dapat dilaksanakan dan tidak rumit. Contoh umum adalah asumsi objek berbentuk bulat, lingkungan yang vakum, tali tak bermassa, katrol tanpa hambatan, dan asumsi Bumi datar.

Kaum Bumi datar menemukan jurnal ilmiah yang menggunakan asumsi Bumi datar dalam modelnya, lalu mereka jadikan “bukti” penulisnya mengetahui Bumi itu datar. Faktanya, itu hanyalah asumsi yang digunakan untuk menyederhanakan masalah, bukan karena Bumi itu datar.

Lanjutkan membaca “Asumsi Untuk Penyederhanaan Dalam Model Ilmiah”

Gerak Horizontal Asap

Gerak horizontal dari asap terjadi akibat gerak horizontal dari udara di sekelilingnya relatif terhadap benda yang mengeluarkan asap. Jika udara tak bergerak relatif terhadap benda yang mengeluarkan asap, maka asap akan bergerak lurus ke atas.

Kaum Bumi datar mengklaim gerak asap lurus ke atas adalah “bukti” Bumi diam. Faktanya, gerak horizontal asap adalah pengaruh gerak udara di sekelilingnya relatif terhadap benda yang mengeluarkan asap, bukan gerak objek itu sendiri.

Lanjutkan membaca “Gerak Horizontal Asap”

Miskonsepsi Hukum Kedua Termodinamika

Pada kuliah daring, seorang dosen MIT menjelaskan hukum kedua termodinamika dengan contoh tabung berisi gas di sebelah tabung berisi vakum. Jika dinding penghubung dibuka, gas akan bergerak memenuhi bagian yang vakum. Namun hal tersebut hanyalah model sederhana yang tak bermaksud menjelaskan segala sifat dari sistem tersebut.

Kaum Bumi datar menganggap kuliah tersebut “membuktikan” tak mungkin atmosfer ada di sebelah luar angkasa yang vakum, dan bahwa hal tersebut “menyalahi” hukum kedua termodinamika. Faktanya, gak dalam tabung juga terpengaruh gravitasi dan memiliki gradasi tekanan, namun hal tersebut di luar lingkup kuliah.

Dan Jika tanya ke dosen itu apakah Bumi datar, beliau tentu akan menjawab tidak.

Lanjutkan membaca “Miskonsepsi Hukum Kedua Termodinamika”

Eksperimen Berat dan Tekanan Udara

Featured Video Play Icon

Dengan menggunakan timbangan digital yang presisi dan ponsel yang memiliki sensor tekanan, kita dapat dengan mudah mengukur perbedaan berat benda dan tekanan udara pada lokasi-lokasi yang berbeda.

Kaum Bumi datar mengklaim benda jatuh akibat massa jenis yang lebih besar daripada udara di sekelilingnya. Tetapi eksperimen justru menunjukkan bahwa benda lebih ringan di lokasi yang lebih tinggi, yang kerapatan udaranya lebih rendah. Hal tersebut bertentangan dengan klaim mereka.

Lanjutkan membaca “Eksperimen Berat dan Tekanan Udara”

Demonstrasi Hamburan Cahaya Menggunakan Penunjuk Laser

Kaum Bumi datar tak memahami mengapa luar angkasa terlihat gelap jika Matahari ada di luar angkasa, dan mereka gunakan hal itu untuk mendiskreditkan sains.

Faktanya, cahaya Matahari melintasi luar angkasa, tetapi karena luar angkasa hampa, tak ada yang menghamburkan dan membelokkannya ke mata kita seperti di Bumi. Kita dapat mendemonstrasikan fenomena tersebut dengan penunjuk laser merah dan hijau berdaya rendah pada udara bersih.

Lanjutkan membaca “Demonstrasi Hamburan Cahaya Menggunakan Penunjuk Laser”

Langit

Featured Video Play Icon

Langit terlihat identik oleh semua pengamat di permukaan Bumi, kecuali Bumi menghalangi pandangan ke bagian langit yang berbeda untuk pengamat yang posisinya berbeda di permukaan Bumi, dan cahaya siang hari menghalangi kebanyakan objek di langit.

Kenyataan bahwa langit terlihat identik dimana pun di permukaan Bumi hanya dapat dijelaskan jika semua benda langit berjarak sangat jauh, dan bahwa Bumi berbentuk bulat.

Lanjutkan membaca “Langit”

Helikopter dan Gerak Rotasi Bumi

Karena fenomena inersia / kelembaman, kita tak dapat pergi ke lokasi lain dengan cara melayang di dalam helikopter, dan menunggu Bumi berotasi di bawah kita sampai kita tiba di tujuan.

Kaum Bumi datar mengklaim bahwa kita tak dapat melakukan hal tersebut adalah bukti Bumi tidak bergerak. Faktanya, helikopter sebenarnya sudah bergerak dengan kecepatan yang sama dengan permukaan Bumi, saat masih berada di permukaan Bumi.

Lanjutkan membaca “Helikopter dan Gerak Rotasi Bumi”

Densitas Udara vs Berat Benda

Pada lokasi yang rendah, kerapatan udara lebih tinggi, dan berat benda lebih besar. Sebaliknya, pada lokasi yang tinggi, kerapatan udara lebih rendah, dan berat benda lebih kecil.

Kaum Bumi datar menolak gravitasi, lalu menciptakan “penjelasan” bahwa benda jatuh adalah karena massa jenisnya lebih besar daripada udara. Tetapi jika hal tersebut benar, maka benda seharusnya lebih berat di lokasi tinggi yang memiliki kerapatan udara lebih rendah, dan lebih ringan di lokasi rendah yang kerapatan udaranya lebih tinggi. Karena yang terjadi adalah sebaliknya, hal tersebut membuktikan bahwa klaim kaum Bumi datar tersebut keliru.

Lanjutkan membaca “Densitas Udara vs Berat Benda”

Kerangka Acuan

Kerangka acuan adalah sebuah sistem koordinat dan titik acuan sistem koordinat tersebut diletakkan. Kecepatan atau laju adalah relatif terhadap sebuah kerangka acuan. Dua buah kecepatan bisa saja relatif terhadap dua buah kerangka acuan yang berbeda, dan tak dapat dibandingkan secara langsung.

Kaum Bumi datar sering membandingkan dua buah besaran kecepatan seperti pesawat yang bergerak dengan kecepatan 900 km/jam dan permukaan Bumi dekat khatulistiwa yang bergerak 1674 km/jam. Mereka akan menyimpulkan pesawat seharusnya tak dapat mengejar permukaan Bumi dan tak akan dapat mendarat jika Bumi berotasi. Mereka salah. Kedua kecepatan tersebut relatif terhadap kerangka acuan yang berbeda, dan tak dapat dibandingkan langsung.

Lanjutkan membaca “Kerangka Acuan”

Georgia Guidestones

Featured Video Play Icon

Georgia Guidestones adalah monumen batu granit di Georgia, Amerika Serikat. Salah satu batunya diberi lubang yang mengarah ke kutub astronomi utara. Akibatnya, dengan melihat melalui lubang tersebut, bintang Polaris terlihat di malam hari.

Polaris terlihat melalui lubang di Georgia Guidestones tersebut setiap malam. Hal ini digunakan kaum Bumi datar sebagai “bukti” Bumi diam. Faktanya, akibat presesi sumbu rotasi Bumi, dalam beberapa ratus tahun, Polaris akan bergeser cukup jauh dari kutub astronomi utara, dan tidak akan lagi terlihat melalui lubang tersebut.

Lanjutkan membaca “Georgia Guidestones”

Cara Kerja Mesin Roket Dalam Ruang Hampa

Featured Video Play Icon

Mesin roket menghasilkan gaya dorong dengan cara melepaskan massa ke arah belakang dengan kecepatan tinggi sesuai dengan hukum ketiga Newton, sama seperti menyalakan alat pemadam api akan membuat kita terdorong ke arah belakang.

Kaum Bumi datar mengklaim mesin roket tak dapat bekerja karena luar angkasa vakum, dan tak ada udara untuk mendorong. Faktanya, kita tetap dapat menghasilkan gaya dorong dalam vakum dengan cara melepaskan massa —yang kita sebut dengan propelan— dengan kecepatan tinggi ke arah berlawanan dengan arah yang kita inginkan.

Lanjutkan membaca “Cara Kerja Mesin Roket Dalam Ruang Hampa”

Kemiringan Sumbu Rotasi Bumi

Featured Video Play Icon

Sumbu rotasi Bumi miring relatif terhadap bidang orbit Bumi. Akibatnya, kemiringan tersebut hanya mempengaruhi posisi objek di tata surya, seperti Matahari, Bulan dan planet-planet; tetapi tidak mempengaruhi posisi bintang di langit. Kedua sumbu rotasi Bumi tetap mengarah ke lokasi yang sama di langit.

Kaum Bumi datar gagal memahami mengapa bintang tidak dipengaruhi oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi dan mereka gunakan hal tersebut untuk mendiskreditkan sains. Faktanya, sumbu rotasi Bumi praktis konstan dalam waktu singkat, dan tidak berubah dalam satu tahun. Namun arah sumbu rotasi Bumi tersebut tidak tegak lurus terhadap bidang orbit Bumi. Akibatnya, hanya objek di tata surya yang terpengaruh oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi.

Lanjutkan membaca “Kemiringan Sumbu Rotasi Bumi”

Percepatan Gravitasi Dalam Rumus Archimedes

Prinsip Archimedes mengatakan: “gaya apung yang berlaku pada benda yang terendam fluida sama dengan berat fluida yang terpindahkan.” Saat ini biasanya kita menggunakan rumus B = -ρgV untuk menghitung gaya apung, dengan ρ adalah kerapatan fluida, g adalah percepatan gravitasi, dan V adalah volume fluida yang terpindahkan.

Archimedes menemukan gaya apung jauh sebelum Newton menemukan gravitasi, dan kaum Bumi datar mempermasalahkan adanya g di dalam rumus gaya apung. Faktanya, gaya apung tergantung pada berat fluida, sementara itu perbedaan berat dan massa baru diketahui setelah Newton. Prinsip Archimedes tetap berlaku, hanya saja sekarang kita mengetahui lebih banyak mengenai berat. Lanjutkan membaca “Percepatan Gravitasi Dalam Rumus Archimedes”

Geometri dari Fenomena Bulan Purnama

Banyak dari kita mengalami masalah kognisi spasial, dan kesulitan untuk membayangkan bagaimana misalnya Bulan purnama dapat terlihat sepanjang malam. Pemikirannya adalah Bulan purnama terjadi karena Matahari-Bumi-Bulan hampir lurus, maka Bulan purnama seharusnya hanya terlihat di tengah malam.

Kaum Bumi datar yang mengalami masalah tersebut mengambil langkah lebih jauh dan menganggap hal tersebut sebagai “bukti” bahwa kejadian Bulan purnama tak dapat dijelaskan pada Bumi bulat. Faktanya, fenomena Bulan purnama dapat dengan mudah dijelaskan pada model Bumi bulat.

Lanjutkan membaca “Geometri dari Fenomena Bulan Purnama”

Vektor Gaya

Banyak miskonsepsi yang beredar di kalangan Bumi datar terjadi hanya karena ketidakpahaman mengenai bagaimana gaya bekerja pada sebuah benda.

Lanjutkan membaca “Vektor Gaya”

Yang Kita Rasakan Sebagai Berat Adalah Gaya Gravitasi

Berat benda adalah gaya yang dikenakan terhadap benda tersebut oleh gravitasi. Gaya gravitasi yang diakibatkan oleh massa Bumi pada sebuah benda adalah yang kita rasakan sebagai ‘berat’.

Banyak kaum Bumi datar yang tidak memahami bahwa berat sebenarnya adalah gaya gravitasi, dan hal tersebut menjadi sumber banyak miskonsepsi di kalangan kaum Bumi datar.

Lanjutkan membaca “Yang Kita Rasakan Sebagai Berat Adalah Gaya Gravitasi”

Temperatur dan Kemiringan Sumbu Rotasi Bumi

Featured Video Play Icon

Sumbu rotasi Bumi itu miring relatif terhadap bidang orbit Bumi. Sisi utara Bumi mendapatkan lebih banyak sinar Matahari pada bulan-bulan sekitar bulan Juni. Sedangkan sisi selatan pada bulan-bulan sekitar bulan Desember. Hal ini menyebabkan siklus tahunan perubahan temperatur dan perubahan musim.

Kaum Bumi datar mengklaim daerah di sekitar khatulistiwa adalah daerah paling panas di Bumi dan mereka gunakan untuk menolak pemahaman kita mengenai hal ini. Faktanya, daerah khatulistiwa belum tentu yang paling panas. Selain itu temperatur akibat kemiringan Bumi memiliki siklus tahunan, dan tak dapat dijelaskan dalam sebuah gambar. Dan karena Bumi berotasi, maka Matahari memberi pengaruh yang sama pada daerah dengan derajat lintang yang sama.

Lanjutkan membaca “Temperatur dan Kemiringan Sumbu Rotasi Bumi”

Apel Jatuh dan Isaac Newton

Apel yang jatuh menjadi sumber inspirasi Isaac Newton untuk memahami bahwa gaya yang membuat apel jatuh adalah gaya yang sama yang membuat Bulan mengorbit Bumi.

Kaum Bumi datar meremehkan kontribusi Newton seakan-akan hal tersebut cuma soal apel yang jatuh dari pohonnya, lalu menggunakan kejadian tersebut sebagai bahan cemoohan. Faktanya, yang dilakukan Newton untuk merumuskan gravitasi jauh lebih banyak daripada sekadar mengamati apel jatuh.

Lanjutkan membaca “Apel Jatuh dan Isaac Newton”