Geometri dari Kejadian Bulan Sabit

Banyak di antara kita yang mengalami kesulitan untuk membayangkan bagaimana misalnya Bulan sabit dapat terlihat di malam hari, padahal posisi Bulan berada lebih dekat dari Matahari daripada Bumi, dan posisi kita saat malam hari membelakangi Matahari. Menurut mereka, seharusnya pada malam hari kita tak dapat melihat Bulan.

Kaum Bumi datar yang mengalami kesulitan visualisasi seperti itu mengambil langkah lebih jauh dan menganggap hal tersebut sebagai ‘bukti’ bahwa fenomena alam tersebut tidak mungkin dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Faktanya, fenomena terlihatnya Bulan sabit saat malam hari dapat dengan mudah dijelaskan pada model Bumi bulat.

Lanjutkan membaca “Geometri dari Kejadian Bulan Sabit”

Crux

Featured Video Play Icon

Rasi Crux dapat terlihat dari lokasi di selatan 26°LU, dan selalu terlihat di langit dari lokasi  di selatan 26°LS. Pada Bumi datar, Crux terliat pada seluruh bagian pinggir yang posisinya berlawanan, tetapi tidak pada bagian tengahnya. Hal ini membuktikan Bumi tidak mungkin datar. Kenampakan Crux hanya konsisten pada model Bumi bulat.

Lanjutkan membaca “Crux”

Bintang-Bintang di Langit Selatan: Bukti Bumi Bulat dan Berotasi Pada Porosnya

Featured Video Play Icon

Jika kita berada di Bumi bagian selatan dan melihat ke langit bagian selatan, kita akan melihat bintang-bintang yang sama di mana pun posisi kita. Bintang-bintang tersebut mengitari sumbu bintang selatan yang berada di rasi Octans, dekat dengan bintang Sigma Octantis.

Fenomena ini tak dapat dijelaskan pada model Bumi datar.  Jika kita lihat peta yang mereka klaim sebagai “peta Bumi datar”, seharusnya kita akan melihat bintang yang berbeda-beda. Ini karena model Bumi datar tidaklah sesuai dengan fakta yang sesungguhnya.

Lanjutkan membaca “Bintang-Bintang di Langit Selatan: Bukti Bumi Bulat dan Berotasi Pada Porosnya”

Almagest dari Ptolemy dan Presesi Sumbu Rotasi Bumi

Akibat presesi sumbu rotasi Bumi, posisi kutub astronomi bergeser sedikit demi sedikit dalam siklus sekitar 26000 tahun. Saat ini, Polaris berada sangat dekat dengan kutub astronomi utara. Namun, 19 abad yang lalu, Kochab berada lebih dekat ke sumbu astronomi utara daripada Polaris.

Kaum Bumi datar mengklaim bintang-bintang selalu berada di posisi yang sama, dan mereka menganggapnya sebagai ‘bukti’ Bumi diam. Peta bintang jaman dahulu seperti Almagest terbitan abad ke-2 membuktikan mereka salah. Bintang-bintang saat ini tidak berada di posisi yang sama seperti 19 abad yang lalu.

Lanjutkan membaca “Almagest dari Ptolemy dan Presesi Sumbu Rotasi Bumi”

Bintang Biduk atau Big Dipper

Featured Video Play Icon

Bintang Biduk atau Big Dipper adalah asterisme yang terang di langit utara. Bintang Biduk selalu terlihat dari utara 41°LU dan selalu tidak terlihat dari selatan 41°LS. Kaum Bumi datar melihat Bintang Biduk selalu terlihat dari lokasi mereka dan menggunakannya sebagai ‘bukti’ Bumi datar. Faktanya, Bintang Biduk tak selalu terlihat di derajat lintang yang lain, dan membuktikan Bumi berbentuk Bulat.

Lanjutkan membaca “Bintang Biduk atau Big Dipper”

Sudut Ketinggian Polaris Dilihat dari Lokasi yang Berbeda di Bumi

Sudut ketinggian bintang Polaris yang terlihat seorang pengamat praktis sama dengan derajat lintang pengamat tersebut. Fenomena ini berlaku dimana pun di Bumi jika Polaris dapat terlihat.

Jika kita menarik garis berdasarkan sudut ketinggian Polaris pada posisi-posisi lintang yang berbeda di model Bumi datar, garis tersebut tidak akan mengarah ke Polaris secara konsisten. Hal ini disebabkan Bumi itu bulat, dan model Bumi datar tak sesuai dengan fakta yang sesungguhnya.

Lanjutkan membaca “Sudut Ketinggian Polaris Dilihat dari Lokasi yang Berbeda di Bumi”

Foto Bulan dan Bintang

Bintang tak terlihat pada foto Bulan —termasuk pada foto yang diambil dari permukaan Bulan— karena permukaan Bulan diterangi cahaya Matahari. Untuk mengambil gambar Bulan, kita mengatur eksposur kamera sesuai untuk mengambil foto objek yang diterangi sinar Matahari, tak jauh berbeda dengan eksposur kamera untuk mengambil foto di siang hari di permukaan Bumi.

Untuk demonstrasi, kita dapat mencoba mengambil foto Bulan bersamaan dengan bintang, dengan syarat: 1. Detil Bulan seperti kawah Bulan harus terlihat, dan tidak terlalu terang atau overexposed. 2. Diambil dalam sekali pengambilan gambar, bukan HDR, dan tidak diedit. Walaupun dengan menggunakan perangkat fotografi terbaik saat ini sekali pun, tidak mungkin bintang dalam jumlah banyak dapat terlihat.

Lanjutkan membaca “Foto Bulan dan Bintang”

Analemma

Analemma adalah sebuah foto atau diagram yang menunjukkan posisi Matahari di langit, seperti yang terlihat di posisi yang tetap, di waktu yang sama setiap harinya, selama satu tahun. Diagram tersebut akan berbentuk seperti angka delapan.

Komponen utara-selatan dari analemma terjadi karena perubahan deklinasi Matahari akibat kemiringan sumbu rotasi Bumi. Komponen barat-timur terjadi karena tidak konstannya perubahan asensio rekta (right ascension), akibat kombinasi dari kemiringan sumbu rotasi Bumi dan eksentrisitas orbit Bumi.

Lanjutkan membaca “Analemma”

Albedo Visual dari Bulan dan Bumi

Albedo visual adalah perbandingan dari cahaya Matahari yang dipantulkan oleh sebuah benda langit dan jumlah seluruh cahaya Matahari yang diterima, dengan hanya memperhitungkan cahaya tampak saja. Albedo visual dari Bumi adalah 0,37, sedangkan albedo visual dari Bulan adalah 0,12.

Bulan terlihat gelap jika Bumi juga terlihat di foto yang sama. Kaum Bumi datar menggunakan fakta tersebut untuk ‘membuktikan’ bahwa foto yang diambil dari luar angkasa tersebut palsu. Mereka salah. Bulan terlihat lebih gelap karena memantulkan lebih sedikit cahaya Matahari daripada Bumi.

Lanjutkan membaca “Albedo Visual dari Bulan dan Bumi”

Piramida Giza dan Teori Korelasi Orion

Teori korelasi Giza-Orion adalah hipotesis yang mengklaim adanya korelasi antara desain piramida Giza dan posisi dari sabuk Orion saat piramida-piramida tersebut didirikan.

Beberapa kaum Bumi datar menggunakan teori korelasi Orion untuk “membuktikan” bintang tidak bergerak. Mereka salah. Teori tersebut sudah memperhitungkan pergeseran posisi bintang akibat pergeseran sumbu rotasi Bumi. Teori tersebut dibuat dengan menggunakan posisi dari sabuk Orion saat Bangsa Mesir mendirikan piramida-piramida tersebut, bukan dari posisi bintang pada saat ini.

Lanjutkan membaca “Piramida Giza dan Teori Korelasi Orion”

Bintang-Bintang Circumpolar dari Indonesia

Indonesia memiliki posisi di sekitar khatulistiwa. Hal ini mengakibatkan posisi sumbu rotasi bintang terlihat dekat dengan horizon, dan nyaris tak ada bintang terang yang bersifat circumpolar, atau selalu berada di langit.

Korban-korban konsep Bumi datar yang berada di Indonesia sering mendapat meme dari luar negeri bahwa banyak bintang yang selalu terlihat di langit. Mereka berasumsi fenomena yang sama juga terjadi di Indonesia dan turut menyebarkan meme tersebut tanpa melakukan verifikasi.

Lanjutkan membaca “Bintang-Bintang Circumpolar dari Indonesia”

Peta Bintang Lama dan Presesi Sumbu Rotasi Bumi

Akibat gerak Bumi berotasi, sumbu rotasi Bumi mengalami presesi, atau pergeseran. Akibatnya, sumbu rotasi  bintang akan mengalami pergeseran dengan periode sekitar 26000 tahun. Saat ini Polaris berada dekat dengan sumbu rotasi bintang Utara. Namun 2000 tahun yang lalu, bintang Kochab lebih dekat ke sumbu rotasi daripada Polaris. Dan 2000 tahun yang akan datang, Errai akan lebih tepat disebut sebagai bintang utara daripada Polaris.

Kaum Bumi datar mengklaim bintang-bintang selalu berada di posisi yang sama adalah bukti Bumi tak bergerak. Mereka salah. Dengan mengamati peta bintang lama terbitan beberapa abad yang lalu, perbedaan sumbu rotasi bintang dapat dengan mudah diketahui. Hal ini membuktikan bintang tak selalu berada di posisi yang sama, dan bahwa Bumi berotasi.

Lanjutkan membaca “Peta Bintang Lama dan Presesi Sumbu Rotasi Bumi”

Objek yang Diterangi Sinar Matahari dan Kenampakan Bintang

Pada umumnya, objek yang terkena sinar Matahari jauh lebih terang daripada bintang. Karena itu bintang tak terlihat pada foto yang memuat objek yang terkena sinar Matahari, kecuali jika objek tersebut dibuat overexposed, dan menjadi terlihat terlalu terang pada gambar hasilnya.

Kaum Bumi datar menjadikan tak adanya bintang di foto sebagai dalih bagi mereka untuk berprasangka buruk kepada pihak lain. Sebenarnya masalahnya ada pada diri mereka sendiri. Apabila objek utama di foto diterangi oleh Matahari, maka biasanya bintang tak akan terlihat.

Lanjutkan membaca “Objek yang Diterangi Sinar Matahari dan Kenampakan Bintang”

Menentukan Kenampakan Bintang Dari Deklinasinya dan Lintang Pengamat

Kita dapat mengetahui apakah bintang terlihat dari lokasi tertentu dengan menggunakan deklinasi bintang tersebut dan derajat lintang posisi pengamat, tergantung dari faktor lain seperti cuaca, topologi dan kecerahan bintang. Hal ini dapat dilakukan hanya karena Bumi bulat dan berotasi.

Jika Bumi datar, semua bintang akan terlihat sepanjang malam dari semua lokasi. Kita tak melihat bintang yang sama setiap malam karena sebagian dari bintang tersebut berada di bawah horizon dan tertutup oleh Bumi.

Lanjutkan membaca “Menentukan Kenampakan Bintang Dari Deklinasinya dan Lintang Pengamat”

Librasi Bulan

Featured Video Play Icon

Bulan mengalami tidal-locking, yaitu salah satu sisi bulan selalu menghadap Bumi. Tetapi Bulan juga mengalami fenomena librasi, dan kita dapat mengintip sedikit bagian dari Bulan yang tak selalu terlihat.

Kaum Bumi datar menciptakan berbagai macam “skenario” mengenai Bulan dengan tujuan “menjelaskan” fenomena-fenomena yang yang tak dapat dijelaskan di Bumi datar. Beberapa di antaranya misalnya Bulan transparan, datar, setengah bola, dan sebagainya. Fenomena librasi membuktikan “penjelasan-penjelasan” yang mereka ciptakan tersebut salah.

Lanjutkan membaca “Librasi Bulan”

Star Trail: Bukti Bumi Bulat dan Berotasi Pada Porosnya

Di bagian utara bumi, apabila kita melihat ke arah utara, kita akan melihat bintang-bintang berputar mengelilingi sebuah titik. Arah perputaran ini adalah kebalikan arah jarum jam.  Titik perputaran ini tidak terlihat apabila pengamat berada di Bumi bagian selatan.

Sebaliknya, di bagian selatan bumi, apabila kita melihat ke arah selatan, kita akan mengamati bintang berputar mengelilingi sebuah titik, tetapi ke arah berlawanan. Dan titik perputaran ini tidak akan terlihat apabila pengamat berada di Bumi bagian utara.

Lanjutkan membaca “Star Trail: Bukti Bumi Bulat dan Berotasi Pada Porosnya”

Stellarium

Kaum Bumi datar gemar mengamati peristiwa langit dan tata letak benda langit. Kadang, mereka bersikeras hal tersebut tak mungkin terjadi di Bumi bulat heliosentris, dan mengambil kesimpulan keliru bahwa Bumi itu datar.

Kita dapat tanyakan waktu kejadian dan lokasi pengamat, dan menggunakan Stellarium atau aplikasi sejenis untuk membuat simulasinya. Jika hasilnya sama dengan pengamatan, maka sama sekali tidak ada kejanggalan. Dan kebingungan mereka hanya bersumber dari ketidakpahaman semata.

Lanjutkan membaca “Stellarium”

Geometri dari Kejadian Bulan Purnama

Sebagian dari kita mengalami kesulitan untuk membayangkan bagaimana misalnya Bulan purnama dapat terlihat sepanjang malam, dan berpikir jika Bulan purnama terjadi karena Matahari-Bumi-Bulan hampir lurus, maka Bulan purnama seharusnya hanya terlihat di tengah malam.

Kaum Bumi datar yang mengalami kesulitan visualisasi seperti ini mengambil langkah lebih jauh dan menganggap hal tersebut sebagai ‘bukti’ bahwa kejadian Bulan purnama tak dapat dijelaskan pada Bumi bulat. Mereka salah. Fenomena Bulan purnama dapat dengan mudah dijelaskan pada model Bumi bulat.

Lanjutkan membaca “Geometri dari Kejadian Bulan Purnama”

Tata Koordinat Geosentris Bukanlah Bukti Geosentrisme

Untuk keperluan astronomi, tata koordinat langit digunakan untuk memetakan posisi benda langit seperti satelit, planet, bintang dan sebagainya. Titik awal acuan bisa terpusat pada apa saja, termasuk pada Bumi. Jika titik awal acuan terpusat di Bumi, maka disebut sebagai ‘tata koordinat langit geosentris’.

Kaum Bumi datar seringkali terpicu dengan istilah ‘geosentris’ yang digunakan untuk merujuk pada titik awal acuan tata koordinat langit. Mereka akan menggunakan fungsi ‘search’ untuk mencari kata ‘geocentric’ pada buku dan penjelasan ilmiah astronomi lainnya. Jika dapat menemukan istilah ‘geosentris’, mereka akan jadikan ‘bukti’ dari geosentrisme, atau bahwa Bumi adalah pusat alam semesta dan Matahari mengelilingi Bumi.

Mereka salah. Penggunaan istilah ‘geosentris’ dalam banyak kasus mengacu pada titik awal acuan tata koordinat langit. Dan sama sekali tak ada hubungannya dengan  apakah Bumi mengelilingi Matahari atau Matahari mengelilingi Bumi.

Lanjutkan membaca “Tata Koordinat Geosentris Bukanlah Bukti Geosentrisme”