Rukyat dan Hisab Untuk Menentukan Awal Bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri

Umat Islam menggunakan dua metode untuk menentukan awal bulan untuk keperluan ibadah, yaitu rukyat (pengamatan hilal) dan hisab (perhitungan hilal). Kedua metoda ini dilakukan misalnya untuk menentukan awal bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.

Umat Bumi datar bersikeras awal bulan Islam hanya dapat ditentukan melalui pengamatan. Mereka salah. Kami membuat script Python sangat sederhana sebagai contoh melakukan hisab untuk menentukan awal bulan kalender Hijriyah selama abad ke-21.

Lanjutkan membaca “Rukyat dan Hisab Untuk Menentukan Awal Bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri”

Kota Punta Arenas, Dunedin dan Murmansk Saat Solstis Desember

Solstis Desember adalah kejadian saat Matahari mencapai titik paling Selatan, terjadi pada sekitar tanggal 21 Desember. Saat ini, bagian Utara Bumi mengalami puncak musim dingin, dan bagian Selatan Bumi mengalami puncak musim panas.

Pada kebanyakan mazhab Bumi datar, Matahari digambarkan memiliki cahaya yang bersifat lokal, seperti lampu sorot, atau lampu senter. Fenomena solstis Desember tak dapat dijelaskan pada model Bumi datar ini.

Lanjutkan membaca “Kota Punta Arenas, Dunedin dan Murmansk Saat Solstis Desember”

Kilap Matahari / Sun-Glint Bukanlah Bukti Matahari Bersifat Lokal

Kilap Matahari (sunglint) adalah fenomena yang terjadi jika cahaya Matahari dipantulkan permukaan air dengan sudut datang yang sama dengan sudut pantulannya. Jika dilihat dari ketinggian, pada daerah tersebut, air akan terlihat terang mengkilap, berbeda dari daerah di sekitarnya.

Matahari pada banyak konsep Bumi datar dianggap sebagai sumber cahaya yang bersifat lokal. Mereka suka menganalogikan seperti lampu sorot atau lampu senter. Fenomena kilap Matahari ini mereka anggap sebagai ‘bukti’ dari Matahari yang bersifat seperti lampu senter. Mereka salah.

Lanjutkan membaca “Kilap Matahari / Sun-Glint Bukanlah Bukti Matahari Bersifat Lokal”

Perbedaan Temperatur Saat Pagi, Siang dan Sore Hari

Perbedaan temperatur harian pada saat pagi, siang dan sore hari disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu ketebalan atmosfer yang harus dilintasi sinar Matahari sebelum sampai ke permukaan, dan perbedaan kerapatan sinar akibat perbedaan sudut datangnya sinar Matahari.

Kaum Bumi datar mengklaim perbedaan temperatur tersebut disebabkan oleh perbedaan jarak Matahari sesuai pada model Bumi datar. Mereka salah.

Lanjutkan membaca “Perbedaan Temperatur Saat Pagi, Siang dan Sore Hari”

Selenelion: Fenomena Matahari dan Bulan Terlihat Bersamaan Saat Gerhana Bulan Total

“Matahari dan Bulan pernah terlihat di langit pada waktu yang sama saat sedang terjadi gerhana Bulan total. Hal ini tak dapat terjadi jika Bumi bulat karena Matahari, Bumi, dan Bulan seharusnya berada dalam garis lurus saat terjadinya gerhana Bulan total. Maka, model Bumi bulat itu salah!”

Beberapa penganut Bumi datar melihat bahwa Matahari dan Bulan terlihat pada saat yang sama saat terjadinya gerhana Bulan total. Sudah dapat diprediksi bahwa mereka akan menyimpulkan bahwa Bumi tidak bulat. Namun pada kenyataannya, fenomena ini terdokumentasi dengan baik dan dapat dengan mudah dijelaskan pada model Bumi bulat.

Lanjutkan membaca “Selenelion: Fenomena Matahari dan Bulan Terlihat Bersamaan Saat Gerhana Bulan Total”

Confirmation Bias

Manusia memiliki bias-bias kognitif yang secara subjektif mempengaruhi penilaian. Salah satu bias kognitif ini adalah confirmation bias. Karena confirmation bias, manusia cenderung untuk mencari informasi yang memperkuat hal yang dipercayainya.

Confirmation bias adalah fakta kehidupan dan merupakan sifat semua manusia. Confirmation bias menyebabkan penilaian subjektif berbeda untuk pengamat yang berbeda. Ciri khas pseudosains —seperti pada konsep Bumi datar— confirmation bias tidak diusahakan untuk diminimalkan, tetapi justru dianjurkan.

Lanjutkan membaca “Confirmation Bias”

Matahari Terbenam, Zoom Kamera dan Auto-Exposure

Ada beberapa video yang beredar di komunitas korban paham Bumi datar. Dalam video ini diperlihatkan bahwa Matahari terlihat terbenam, tapi setelah dilakukan zoom, ternyata Matahari belum terbenam. Konon, hal ini dijadikan ‘bukti’ bahwa Matahari hanya kelihatan terbenam, tapi sebenarnya menjauh.

Tentu saja ada penjelasan yang lebih masuk akal. Seperti pada kasus lainnya yang serupa, semuanya bersumber pada ketidaktahuan mereka mengenai fotografi.

Lanjutkan membaca “Matahari Terbenam, Zoom Kamera dan Auto-Exposure”

Efek Refraksi Atmosfer Terhadap Matahari Terbit dan Terbenam

Jika Bumi datar, maka seharusnya Matahari akan terlihat dari seluruh Bumi, dan tidak akan pernah terbenam. Untuk itu, demi menyelamatkan teori Bumi datar, diciptakanlah sebuah ad-hoc hypothesis bahwa Matahari terbenam adalah akibat dari perspektif dan refraksi.

Untuk perspektif telah kami bahas sebelumnya. Sekarang mari kita telaah betulkah refraksi dapat menyebabkan Matahari terlihat terbenam.

Lanjutkan membaca “Efek Refraksi Atmosfer Terhadap Matahari Terbit dan Terbenam”

Mengamati Merkurius dan Venus

Merkurius dan Venus memiliki orbit lebih dekat ke Matahari dibandingkan Bumi. Untuk mengamati keduanya, hanya bisa dilakukan beberapa saat setelah Matahari terbenam atau sebelum Matahari terbit, atau pada siang hari apabila kondisinya tepat.

Banyak kaum Bumi datar yang berpendapat bahwa seharusnya tidak mungkin bisa mengamati Merkurius dan Venus. Mereka salah. Lanjutkan membaca “Mengamati Merkurius dan Venus”

Refraksi Atmosfer

Gelombang cahaya tidak selalu bergerak lurus. Apabila melewati medium yang indeks biasnya berbeda, gelombang cahaya akan membelok. Peristiwa ini dinamakan refraksi atau pembiasan, dan fenomena tersebut dijelaskan menurut Hukum Snell.

Atmosfer Bumi memiliki kerapatan dan temperatur yang tergantung dari ketinggian, sehingga indeks bias akan berbeda untuk ketinggian yang berbeda. Oleh karena itu gelombang cahaya yang melewati atmosfer Bumi juga mengalami refraksi.

Refraksi atmosfer adalah fenomena alam yang nyata. Masalahnya fenomena refraksi ini disalahgunakan oleh penganut Bumi datar untuk menjelaskan peristiwa terbenamnya Matahari.

Lanjutkan membaca “Refraksi Atmosfer”