Manusia Adalah Makhluk Sosial – Sains Adalah Proses Sosial

Kita sering menyaksikan penganut Bumi datar menanyakan apakah kita sudah melakukan riset sendiri terhadap hal yang kita kemukakan. Jika kita tidak melakukan riset sendiri, tetapi hanya “katanya”, maka menurut mereka kita tidak dapat mempercayainya.

Hal ini tentu saja tidak benar. Manusia adalah makhluk sosial, dalam banyak hal kita tak memiliki pilihan, dan harus bergantung pada manusia yang lain. Lanjutkan membaca “Manusia Adalah Makhluk Sosial – Sains Adalah Proses Sosial”

Bentuk Bumi Pipih ‘Oblate Spheroid’ dan Foto Dari Luar Angkasa

Bumi itu berbentuk pipih ‘oblate spheroid’, diameternya lebih panjang di khatulistiwa daripada antar kutubnya. Hal ini sering dipermasalahkan oleh penganut Bumi datar. Menurut mereka, foto-foto Bumi dari luar angkasa tidak ada yang terlihat pipih, dan semuanya bulat sempurna. Biasanya hal ini kemudian dijadikan ‘bukti’ untuk memfitnah para ilmuwan dengan menuduh mereka membohongi publik.

Tapi ternyata bukan tidak mungkin membuktikan pipihnya bentuk Bumi melalui foto Bumi dari luar angkasa.

Lanjutkan membaca “Bentuk Bumi Pipih ‘Oblate Spheroid’ dan Foto Dari Luar Angkasa”

Perbedaan Ukuran Bukaan Lensa: Penyebab Benda Yang Terhalang Dapat Terlihat Setelah Di-Zoom

Pernahkah anda melihat video dari penganut Bumi datar yang mencoba untuk memperlihatkan bahwa objek di kejauhan yang nampak terhalang akan dapat kembali terlihat setelah di-zoom? Setelah itu dia akan menyimpulkan hal yang sama terjadi pada kapal di kejauhan, dan penyebab kapal tak terlihat bukanlah lengkungan Bumi.

Ternyata tidak sama sekali. Penyebab sebenarnya hanyalah karena objek penghalang posisinya dekat, dan ada perbedaan ukuran bukaan lensa setelah di-zoom. Pada kamera dengan rentang zoom yang jauh —seperti Nikon P900—, perbedaannya akan sangat terlihat.

Lanjutkan membaca “Perbedaan Ukuran Bukaan Lensa: Penyebab Benda Yang Terhalang Dapat Terlihat Setelah Di-Zoom”

Siklus Saros dan Deret Saros

Sebuah halaman di situs web NASA menjadi pusat perhatian para penganut paham Bumi datar. Halaman tersebut adalah buatan Fred ‘Mr. Eclipse’ Espenak yang menjelaskan mengenai siklus Saros. Berikut kutipan paragraf awal dari halaman tersebut:

The periodicity and recurrence of eclipses is governed by the Saros cycle, a period of approximately 6,585.3 days (18 years 11 days 8 hours). It was known to the Chaldeans as a period when lunar eclipses seem to repeat themselves, but the cycle is applicable to solar eclipses as well.

Betapa girangnya mereka apalagi setelah mengetahui bahwa Chaldean adalah peradaban dari 25 abad yang lalu. “Maka artinya NASA menggunakan teknologi 25 abad lalu untuk menghitung gerhana!!!11” pikir mereka. “Dan dengan demikian NASA tidak menggunakan hukum Newton untuk menghitung gerhana!!!!11”

Seperti kasus-kasus lain yang serupa, hal ini tentunya menceritakan lebih banyak mengenai penganut Bumi datar daripada mengenai NASA.

Lanjutkan membaca “Siklus Saros dan Deret Saros”

Peta Polar Azimuthal-Equidistant: BUKAN Peta Bumi Datar

Penganut Bumi datar memiliki ‘peta’ yang mereka anggap sebagai ‘peta Bumi datar yang sesungguhnya’. Peta ini kebetulan saja memiliki bentuk yang sama dengan peta azimuthal-equidistant yang berpusat di kutub utara. Masalahnya adalah mereka menganggap peta polar azimuthal-equidistant sebagai peta Bumi datar, padahal sama sekali bukan.

Lanjutkan membaca “Peta Polar Azimuthal-Equidistant: BUKAN Peta Bumi Datar”

Perjalanan Mengelilingi Bumi yang Melewati Kedua Kutub

Menurut beberapa korban paham Bumi datar, tidak ada penjelajah yang berhasil mengelilingi Bumi melalui kedua kutub. Yang ada hanyalah penjelajah yang mengelilingi Bumi sejajar dengan garis khatulistiwa, seperti James Cook atau Ferdinand Magellan. Karena jika ada, maka runtuhlah teori Bumi datar dalam seketika.

Ternyata hal tersebut tidak benar. Ada beberapa penjelajah yang sudah pernah melakukan hal tersebut. Dari sekilas pencarian di Internet, kami dapat menemukan paling tidak ada tujuh penjelajah yang telah atau sedang melakukannya.

Lanjutkan membaca “Perjalanan Mengelilingi Bumi yang Melewati Kedua Kutub”

Efek Eötvös: Bukti Bumi Bulat dan Berotasi

Efek Eötvös adalah perubahan percepatan gravitasi Bumi yang dirasakan akibat gerakan pengamat menuju Barat atau Timur. Jika kita bergerak menuju Timur, maka kita akan merasa gaya tarik Bumi sedikit lebih kecil daripada jika kita bergerak ke arah Barat (atau diam di tempat).

Efek ini ditemukan oleh Loránd Eötvös di tahun 1900an setelah melihat data pengukuran gravitasi di atas kapal yang berbeda antara kapal yang bergerak ke Barat dan ke Timur. Efek ini merupakan konsekuensi dari fakta bahwa Bumi berbentuk bulat dan berotasi di porosnya.

Lanjutkan membaca “Efek Eötvös: Bukti Bumi Bulat dan Berotasi”

Jalur Transmisi Lake Pontchartrain: Bukti Lengkungan Bumi

Lake Ponchartrain adalah sebuah danau di Louisiana, Amerika Serikat. Ada sebuah jalur transmisi listrik sepanjang 25 km yang melewati danau ini. Jalur transmisi ini praktis lurus dan memiliki ketinggian yang praktis sama. Fakta tersebut menjadikan objek tersebut cocok untuk mengamati kelengkungan permukaan Bumi.

Objek tersebut pertama kali dipopulerkan oleh Soundly, yang pada Juni 2017 mengambil beberapa foto dan video tiang-tiang tersebut untuk menunjukkan kelengkungan permukaan Bumi. Saat ini, tiang-tiang tersebut dan juga objek lainnya di Danau Pontchartrain bisa dibilang adalah objek wisata lengkungan Bumi paling populer di dunia.

Lanjutkan membaca “Jalur Transmisi Lake Pontchartrain: Bukti Lengkungan Bumi”

Fallacy ‘Moving the Goalposts’

Penganut paham Bumi datar seringkali melakukan fallacy ‘moving the goalposts’ atau ‘memindahkan tiang gawang’. Apabila ada yang memberikan bukti bahwa klaim penganut Bumi datar tersebut salah, maka mereka akan mengubah klaimnya agar bukti tersebut tidak lagi bisa menjadi bukti. Begitu seterusnya sampai klaim mencapai klaim yang tidak falsifiable, atau tidak mungkin dibuktikan kebenarannya.

Lanjutkan membaca “Fallacy ‘Moving the Goalposts’”

Selenelion: Fenomena Matahari dan Bulan Terlihat Bersamaan Saat Gerhana Bulan Total

“Matahari dan Bulan pernah terlihat di langit pada waktu yang sama saat sedang terjadi gerhana Bulan total. Hal ini tak dapat terjadi jika Bumi bulat karena Matahari, Bumi, dan Bulan seharusnya berada dalam garis lurus saat terjadinya gerhana Bulan total. Maka, model Bumi bulat itu salah!”

Beberapa penganut Bumi datar melihat bahwa Matahari dan Bulan terlihat pada saat yang sama saat terjadinya gerhana Bulan total. Sudah dapat diprediksi bahwa mereka akan menyimpulkan bahwa Bumi tidak bulat. Namun pada kenyataannya, fenomena ini terdokumentasi dengan baik dan dapat dengan mudah dijelaskan pada model Bumi bulat.

Lanjutkan membaca “Selenelion: Fenomena Matahari dan Bulan Terlihat Bersamaan Saat Gerhana Bulan Total”

Bulan Yang Tak Menjadi Gelap Pada Foto Gerhana Bulan Total

“Jika kita lihat foto-foto yang mengabadikan perkembangan berlangsungnya gerhana Bulan, Bulan terlihat berubah warna menjadi merah, tetapi tak berubah menjadi gelap. Karena itu gerhana Bulan total tak mungkin disebabkan oleh bayangan Bumi.”

Beberapa penganut Bumi datar —yang sepertinya belum pernah melihat langsung gerhana Bulan total— mengklaim hal tersebut.

Lanjutkan membaca “Bulan Yang Tak Menjadi Gelap Pada Foto Gerhana Bulan Total”

Warna Merah Bulan Saat Gerhana Bulan Total

Bulan menjadi berwarna merah saat terjadi gerhana Bulan total. Jika pada gerhana Bulan total, cahaya Matahari terhalang oleh Bumi, bagaimana caranya bulan bisa mencapat cahaya?

Bulan mendapat cahaya merah akibat cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi dan mengalami pembiasan.

Lanjutkan membaca “Warna Merah Bulan Saat Gerhana Bulan Total”

Fase Bulan dan Gerhana Bulan

Salah satu miskonsepsi yang rupanya sering beredar —bukan hanya di kalangan Bumi datar, tapi juga di masyarakat umum— adalah bahwa fase Bulan terjadi karena bayangan Bumi. Perbedaannya, di kalangan Bumi datar, miskonsepsi ini diinterpretasikan macam-macam.

Penjelasannya adalah fase Bulan yang kita lihat sehari-hari terjadi karena adanya siang dan malam di permukaan Bulan, dan bukan karena tertutup bayangan Bumi.

Lanjutkan membaca “Fase Bulan dan Gerhana Bulan”

Kemiringan Gedung Akibat Lengkungan Bumi

Beberapa penganut Bumi datar mengklaim bahwa jika permukaan Bumi melengkung, maka sebuah bangunan yang berjarak jauh seharusnya akan miring kearah menjauhi kita. Tetapi karena kita tidak pernah mengamati fakta ini, mereka menyimpulkan bahwa tidak ada lengkungan.

Pengambilan kesimpulan tersebut sebenarnya benar, namun mari kita lihat apakah mengamati kemiringan gedung akibat lengkungan permukaan Bumi adalah hal yang realistis untuk dilakukan.

Lanjutkan membaca “Kemiringan Gedung Akibat Lengkungan Bumi”

Penerbangan Langsung Jarak Jauh Di Bumi Bagian Selatan

Beberapa penganut Bumi datar mengklaim bahwa tidak ada penerbangan jarak jauh antara dua kota di bagian Selatan Bumi tanpa transit melalui Bumi bagian Utara. Hal ini karena pada model Bumi datar, jarak antara dua kota di selatan Bumi akan sangat jauh, dan penerbangan akan melewati bagian ‘utara’ Bumi.

Lanjutkan membaca “Penerbangan Langsung Jarak Jauh Di Bumi Bagian Selatan”

Ideologi Bumi Datar dan Fallacy ‘Lonely Fact’

Salah satu fallacy yang sering dilakukan penganut Bumi datar adalah fallacy ‘hasty generalization’, yaitu menyimpulkan sesuatu dari sangat sedikit kasus yang tidak mewakili keseluruhan kasus. Jika kasus yang dijadikan basis pengambilan kesimpulan hanya satu, maka fallacy ini menjadi fallacy ‘lonely fact’.

Terlebih lagi, mereka dengan sengaja memilih kasus yang menguntungkan mereka, dan digunakan untuk ‘membuktikan’ kasus yang lain itu tidak benar. Ini adalah fallacy lain yang dinamakan ‘cherry-picking’ atau ‘suppressed evidence’.

Beberapa contoh dari fallacy tersebut adalah sebagai berikut:

Lanjutkan membaca “Ideologi Bumi Datar dan Fallacy ‘Lonely Fact’”

Warga Negara Indonesia di Antartika

Antartika daerah terlarang? Itu adalah hoax yang sering beredar di komunitas korban ideologi Bumi datar. Kenyataannya, ada sangat banyak orang yang telah menginjakkan kaki di Antartika. Dan yang dimaksud tentu saja orang-orang biasa, bukan tentara khayalan yang konon yang ditugasi untuk ‘menjaga’ Antartika agar tidak dimasuki orang.

Berikut adalah beberapa warga Indonesia yang kunjungannya ke Antartika diliput oleh media massa.

Lanjutkan membaca “Warga Negara Indonesia di Antartika”

Gaya Tarik Antara Jarum Kompas dan Magnet Bumi

Di kalangan penganut Bumi datar ada dua macam miskonsepsi mengenai interaksi antara jarum kompas dan magnet Bumi.

Miskonsepsi pertama adalah kompas tidak berfungsi dengan baik di daerah sekitar kutub, maka disimpulkan bahwa Bumi tidak bulat. Umumnya hal ini mereka simpulkan setelah mendengar hal ini dari cerita Admiral Byrd.

Miskonsepsi kedua adalah kompas seharusnya tidak berfungsi pada Bumi bulat di daerah sekitar khatulistiwa. Menurut mereka, seharusnya kompas akan menunjuk arah yang miring dari permukaan Bumi, dan seharusnya kompas tidak dapat berfungsi pada Bumi bulat.

Mari kita bahas satu per satu miskonsepsi mengenai kompas tersebut.

Lanjutkan membaca “Gaya Tarik Antara Jarum Kompas dan Magnet Bumi”

Kesesatan Logika CGI Bentuk Kedua

Satu lagi fallacy yang sering dilakukan oleh para korban paham Bumi datar memiliki bentuk sebagai berikut:

  • Pengamatan: tak ada foto atau video dari objek ‘X’ yang bukan CGI.
  • Kesimpulan: ‘X’ tidak ada di dunia nyata.

Pengambilan kesimpulan tersebut salah karena alasan ini:

  1. Sebuah objek yang nyata tetaplah nyata apabila tidak ada orang yang pernah mengambil foto objek tersebut.
  2. Premis awal bisa saja tidak valid karena bisa saja dia hanya tidak tahu ada foto objek yang bersangkutan.

Lanjutkan membaca “Kesesatan Logika CGI Bentuk Kedua”

Kesesatan Logika CGI Bentuk Pertama

Salah satu kesalahan logika yang sering ditemukan di kalangan korban paham Bumi datar adalah yang berhubungan dengan CGI. CGI (computer-generated imagery) adalah penggunaan komputer untuk menghasilkan gambar.

Karena kesalahan logika ini sangat sering ditemukan di kalangan penganut Bumi datar, mari kita beri nama ‘Kesesatan logika CGI’, yang bentuk pertamanya adalah sebagai berikut:

  • Pengamatan: sebuah foto/video objek ‘X’ dibuat dengan CGI
  • Kesimpulan: ‘X’ tidak ada di dunia nyata

Ini adalah kesalahan logika karena bisa saja membuat foto/video CGI dari objek yang ada di dunia nyata.

Lanjutkan membaca “Kesesatan Logika CGI Bentuk Pertama”