Arah Kiblat: Bukti Bumi Berbentuk Bulat

Ada dua waktu setiap tahunnya saat Matahari berada tepat di atas Kabah. Pada saat itu, arah Matahari akan menandakan arah ke Mekah, asalkan Matahari di lokasi tersebut masih terlihat. Fenomena ini terjadi pada tanggal 27 atau 28 Mei, pukul 9:18 GMT dan tanggal 15 atau 16 Juli, pukul 9:27 GMT.

Lalu apa hubungannya  Bumi datar? Dari data-data arah kiblat yang didapatkan dari metoda tersebut, tak sulit untuk menyimpulkan bahwa Bumi tidak mungkin berbentuk datar.

Kamu dapat kumpulkan data-data arah kiblat dari seluruh dunia, yang diukur dengan metoda yang dijelaskan di atas. Dari seluruh data-data tersebut, jika diplot di ‘peta Bumi datar’, hasilnya tidak akan konsisten dengan arah ke Mekah pada peta tersebut. Ini menandakan bahwa peta yang digunakan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Sebaliknya, kamu dapat menggunakan globe untuk mencocokkan data-data tersebut dalam model Bumi bulat. Arah kiblat adalah jarak terdekat ke Mekah. Pada globe hal ini dapat disimulasikan dengan menarik benang dari sebuah lokasi ke kota Mekah. Hasilnya akan sama dan konsisten dengan arah kiblat yang didapatkan melalui pengukuran arah Matahari di atas.

Pengukuran Arah Kiblat Untuk Daerah Yang Saat Itu Sedang Malam Hari

Pengukuran di atas hanya dapat dilakukan jika di lokasi tersebut sedang mengalami siang hari saat Matahari tepat berada di atas Mekah. Namun bukan berarti pengukuran tidak bisa dilakukan. Pengukuran dapat dilakukan saat Matahari tepat berada di posisi antipoda-nya Mekah, yaitu di lautan Pasifik selatan, di French Polynesia.

Matahari berada di antipoda Mekah pada tanggal 12 atau 13 Januari, pukul 21:29 GMT; dan pada 28 November, pukul 21:09 GMT. Pada saat itu, bayangan benda yang terkena sinar Matahari akan mengarah ke jarak terdekat menuju Mekah.

Arah Kiblat Pada Ilustrasi

  • Jakarta: 295.14°
  • Perth: 295.39°
  • Sydney: 277.5°
  • Auckland: 261.2°
  • Jayapura: 291.33°
  • Honolulu: 336.89°
  • Los Angeles: 23.86°
  • Anchorage: 350.88°
  • New York: 58.48°
  • Tokyo: 293.02°
  • Mexico City: 46.6°
  • Hong Kong: 285.09°
  • Panama City: 61.97°
  • Buenos Aires: 76.27°
  • Santiago: 81.84°
  • Punta Arenas: 92.95°
  • Sao Paulo: 68.94°
  • Caracas: 65.41°
  • Recife: 66.2°
  • Brasilia: 68.76​°
  • Cayenne: 68.48°
  • Quito: 66.06°
  • La Paz: 73.12°
  • Dallas: 43.51°
  • Madrid: 103.97°
  • London: 118.99°
  • Dakar: 73.94°
  • St. Petersburg: 165.91°
  • Moscow: 176.36°
  • Lagos: 63.33°
  • Johannesburg: 14.59°
  • Cape Town: 23.35°
  • Antananarivo: 349.07°
  • Kinshasa: 42°
  • Colombo: 294.79°
  • Dhaka: 277.57°
  • Islamabad: 255.88°
  • Ulaanbaatar: 268.4°
  • Suva: 281.91°
  • Kerguelen: 331.48°
  • Honiara: 289.41°
  • Papeete: 295.15°
  • Grytviken: 66.58°
  • Stanley, Falkland: 82.05°

“Kejanggalan” Pada Model Bumi Bulat

Oknum-oknum pencetus Bumi datar sering merespon dengan memperlihatkan bahwa walaupun umat Muslim shalat mengarah ke kiblat, karena Bumi bentuknya bulat, maka tidak benar-benar mengarah ke ka’bah.

Pertama, ini sudah masuk ranah aqidah, dan di luar sains. Untuk itu silakan konsultasikan kepada ahli agama, seperti pada ulama, ahli tafsir atau ahli ilmu falak di MUI.

Kedua, ini adalah jurus red herring untuk mengalihkan perhatian dari masalah sesungguhnya, yaitu arah kiblat pada model Bumi datar yang tidak menunjukkan arah yang benar di peta Bumi datar. Hanya karena ada ‘masalah’ kiblat pada model Bumi bulat, bukan berarti tidak ada masalah kiblat pada model Bumi datar. Masalah tersebut tetap ada; dan masalah tidak menjadi hilang karena ada sesuatu yang dianggap ‘masalah’ pada model Bumi bulat.

Referensi