Al-Biruni: BUKAN Penganut Bumi Datar

Salah satu modus operandi influencer Bumi datar adalah dengan dengan cara mencatut agama atau tokoh agama. Tujuannya adalah untuk mendekatkan paham ini dengan agama dan pengikut-pengikutnya. Karena di Indonesia agama terbesar adalah Islam, maka wajar apabila mereka mencari korban di kalangan umat Islam. Salah satu tokoh agama yang dicatut ini adalah Al-Biruni.

Tapi, tentu saja, sekali lagi, Al-Biruni bukanlah penganut paham Bumi datar.

Al-Biruni sebenarnya tak dapat disebut tokoh agama. Dia adalah ilmuwan beragama Islam yang hidup pada jaman keemasan Islam. Bagi banyak orang di Indonesia, itu sudah cukup untuk disebut sebagai tokoh agama.

Klaim “Al-Biruni penganut aliran Bumi” datar bisa dibilang adalah produk dalam negeri, bukan impor dari luar. Hoax ini dibuat oleh oknum aliran Bumi datar dalam negeri dengan inisial BD. Di luar sana, praktis tidak ada hoax serupa mengenai Al-Biruni. Tentunya bukan bangga karena ini “produk dalam negeri”, tetapi kita harus prihatin karena oknum tersebut bisa menjaring banyak korban, khususnya dari kalangan umat Islam.

Al-Biruni sendiri berpendapat Bumi berbentuk globe dengan permukaan yang kasar akibat gunung dan lembah. Tetapi kekasaran ini tidak signifikan dibandingkan bentuk Bumi. Karena bentuk permukaan yang tidak halus, maka air tidak menutupi seluruh permukaan Bumi.

Al-Biruni menganut geosentris: Bumi berada di pusat alam semesta. Tetapi ini berdasarkan filsafat, dan bukan pengamatan. Al-Biruni bahkan mengatakan bahwa jika Bumi berotasi, maka ini akan menjelaskan pergeseran posisi Matahari, tetapi ia tak dapat membuktikan hal tersebut benar atau salah. Menurutnya, perhitungan astronomi yang sama bisa dilakukan untuk model geosentris dan heliosentris tersebut.

Sebagian kecil dari hasil karya Al-Biruni:

  • Mengukur diameter Bumi dengan ketelitian yang sangat tinggi untuk standar saat itu.
  • Menjelaskan fase bulan dan gerhana Bulan, serta memprediksi posisi bintang saat terjadinya gerhana.
  • Menjelaskan dan mendesain astrolabe (alat untuk mengukur posisi benda langit).
  • Membuat metoda pengukuran densitas, berat, berat jenis, dan bahkan gravitasi.
  • Memprediksi adanya benua antara Asia dan Eropa, yang beberapa abad kemudian ditemukan dan dinamakan “Amerika”.
  • Merangkum sejarah negara-negara dan kejadian-kejadian historis.
  • Menghitung dan mencatat koordinat lintang dan bujur untuk 600 lokasi di Bumi.
  • Berkontribusi pada ilmu trigonometri sferis/bulat, terutama untuk menghitung arah kiblat hanya dengan mengetahui koordinat lintang dan bujurnya.
  • Membuat beberapa proyeksi Bumi pada bidang datar, seperti proyeksi azimuthal-equidistant dan nicolosi.

Dari karya-karyanya, tak sulit untuk menyimpulkan bahwa Al-Biruni bukan seorang penganut Bumi datar. Al-Biruni bahkan dianggap sebagai salah satu pelopor ilmu Geodesi: cabang ilmu matematika dan ilmu Bumi yang membahas pengukuran dan pemetaan Bumi dan planet lainnya.

Referensi