Siklus Saros dan Deret Saros

Sebuah halaman di situs web NASA menjadi pusat perhatian para penganut paham Bumi datar. Halaman tersebut adalah buatan Fred ‘Mr. Eclipse’ Espenak yang menjelaskan mengenai siklus Saros. Berikut kutipan paragraf awal dari halaman tersebut:

The periodicity and recurrence of eclipses is governed by the Saros cycle, a period of approximately 6,585.3 days (18 years 11 days 8 hours). It was known to the Chaldeans as a period when lunar eclipses seem to repeat themselves, but the cycle is applicable to solar eclipses as well.

Betapa girangnya mereka apalagi setelah mengetahui bahwa Chaldean adalah peradaban dari 25 abad yang lalu. “Maka artinya NASA menggunakan teknologi 25 abad lalu untuk menghitung gerhana!!!11” pikir mereka. “Dan dengan demikian NASA tidak menggunakan hukum Newton untuk menghitung gerhana!!!!11”

Seperti kasus-kasus lain yang serupa, hal ini tentunya menceritakan lebih banyak mengenai penganut Bumi datar daripada mengenai NASA.

Siklus Saros adalah periode yang dapat digunakan untuk memprediksi terjadinya gerhana. Siklus Saros memiliki periode selama 18 tahun, 11 hari dan 8 jam. Jaman sekarang, siklus Saros digunakan terutama untuk mengelompokkan gerhana-gerhana ke dalam Deret Saros.

Gerhana-gerhana yang berasal dari siklus yang sama ini memiliki kemiripan, dan diidentifikasikan dengan nomor Deret Sarosnya.

Contohnya, gerhana Matahari Amerika Serikat 21 Agustus 2017 adalah gerhana yang berasal dari Deret Saros 145. Gerhana ini adalah gerhana ke-16 dari total 77 gerhana dalam Deret Saros tersebut. Gerhana berikutnya untuk Deret Saros 145 akan terjadi pada 2 September 2035. Deret Saros 145 sendiri dimulai pada 4 Januari 1639 dan baru akan berakhir pada gerhana ke-77 pada tanggal 17 April 3009.

Sebuah Deret Saros saling tumpang tindih dengan Deret Saros lainnya. Dalam satu tahun dapat terjadi dua sampai lima kali gerhana Matahari, yang tentunya berasal dari Deret Saros yang berbeda. Dalam suatu saat, ada sekitar 40 buat Deret Saros yang masih berjalan. Setelah sebuah Deret Saros berakhir, akan dimulai sebuah Deret Saros baru untuk menggantikannya.

Siklus gerhana Bulan memang diketahui oleh bangsa Chaldean, dan konsepnya tak jauh berbeda dengan gerhana Matahari. Namun yang memberi nama ‘Saros’ bukanlah mereka, melainkan Edmond Halley pada tahun 1691. Sedangkan sistem penomoran Deret Saros pertama kali dibuat oleh ahli astronomi dari Belanda, G. van den Bergh, pada tahun 1887.

Lalu bagaimana dengan cara mereka melakukan prediksi gerhana? Siklus Saros tentunya tetap dapat digunakan untuk memprediksi waktu terjadinya gerhana secara kasar. Tetapi bukan hanya itu yang bisa diprediksi di jaman sekarang. Saat ini kita dapat memprediksi waktu dan lokasi terjadinya gerhana dengan tepat. Bahkan kontur Bulan pun diperhitungkan untuk memprediksi gerhana. Fenomena yang dapat diamati saat gerhana seperti Baily’s Bead dan Corona pun dapat diprediksi bentuknya. Hal ini tentunya tak dapat diprediksi hanya dari siklusnya saja.

Siklus Saros pada saat ini sebenarnya tak jauh berbeda dengan misalnya bagaimana kita membagi waktu menjadi tahun-bulan-hari-jam-menit-detik. Tahun adalah lama waktu siklus Matahari akibat revolusi Bumi. Setiap tahun diberi nomor untuk memudahkan kita mengidentifikasi tahun tertentu. Tentunya kita tak dapat melupakan bahwa sistem ini merupakan teknologi jaman Romawi kuno yang masih kita gunakan sampai sekarang.

Referensi