Ibadah Agama Islam Tergantung Pada Pemahaman Bentuk Bumi Bulat

Observasi dan perhitungan astronomi merupakan bagian dari ibadah umat Islam. Untuk menentukan arah kiblat, waktu shalat, awal puasa Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha, serta menentukan jadwal shalat gerhana, semuanya ditentukan melalui pengamatan atau perhitungan astronomi. Tanpa pemahaman yang benar mengenai bentuk Bumi yang sesungguhnya, tidaklah mungkin seorang Muslim menjalankan beberapa kewajibannya dengan praktis dan efektif.

Lanjutkan membaca “Ibadah Agama Islam Tergantung Pada Pemahaman Bentuk Bumi Bulat”

Fase Bulan Tidak Terjadi Akibat Bulan Terhalang Bumi

Banyak penganut Bumi datar mengira bahwa pada model Bumi bulat, fase Bulan terjadi karena Bulan tertutup bayangan Bumi. Mereka salah. Fase Bulan terjadi akibat bentuk dari bagian bulan yang terkena sinar Matahari jika dilihat dari pengamat.

Sedangkan fenomena Bulan tertutup bayangan Bumi dinamakan gerhana Bulan. Fase Bulan terjadi setiap saat dan memiliki siklus bulanan. Sedangkan gerhana Bulan tidak selalu terjadi, dan hanya terjadi sesekali saja.

Lanjutkan membaca “Fase Bulan Tidak Terjadi Akibat Bulan Terhalang Bumi”

Ilmu Falak

Featured Video Play Icon

Ibadah agama Islam tergantung pada observasi dan perhitungan yang membutuhkan pemahaman yang benar mengenai bentuk bumi yang sesungguhnya, yaitu bulat. Itu sebabnya ilmu falak dipelajari dalam Islam.

Kaum Bumi datar bersikeras perhitungan untuk keperluan ibadah agama Islam tidak dilakukan berdasarkan Bumi bulat. Hal ini dapat dibuktikan salah dengan membaca buku-buku penjelasan ilmu falak yang dapat kita peroleh di Internet.

Lanjutkan membaca “Ilmu Falak”

Diagram Gerhana Bulan Total, Digambarkan Sesuai Skala

Diagram manapun yang menampilkan dua atau lebih benda angkasa nyaris tak pernah digambarkan sesuai dengan skala. Alasannya adalah pada kebanyakan kasus, dua benda angkasa terpisah dalam jarak yang terlalu jauh dibandingkan dengan ukurannya. Tidaklah mungkin menggambarkannya dalam skala yang benar dan tetap dapat menjelaskan apa yang ingin diterangkan. Kita tak memiliki pilihan selain menggambarnya tak sesuai skala.

Oknum-oknum Bumi datar menyebarkan tuduhan bahwa diagram-diagram tersebut tak digambarkan sesuai skala karena ada niat jahat di balik itu, bukan karena alasan teknis. Beberapa orang tak mengerti hal ini dan menjadi korban indoktrinasi Bumi datar.

Lanjutkan membaca “Diagram Gerhana Bulan Total, Digambarkan Sesuai Skala”

Inklinasi Orbit: Penyebab Gerhana Tak Terjadi Setiap Bulan

Orbit Bumi dan orbit Bulan tidak persis  sebidang, tetapi bidang orbit Bulan membentuk sudut sebesar 5,14° terhadap orbit Bumi. Itu sebabnya baik gerhana Bulan dan gerhana Matahari tak terjadi setiap bulan.

Kadang kita melihat kaum Bumi datar mengklaim seharusnya gerhana terjadi setiap bulan, tetapi tidak terjadi, dan mereka simpulkan sebagai ‘kegagalan sains’ untuk menjelaskan fenomena gerhana. Kesalahan mereka adalah tidak memperhitungkan faktor inklinasi orbit, atau kemiringan orbit Bulan terhadap orbit Bumi.

Lanjutkan membaca “Inklinasi Orbit: Penyebab Gerhana Tak Terjadi Setiap Bulan”

Siklus Saros dan Prediksi Gerhana

Jaman dahulu, Bangsa Babilonia mencatat riwayat terjadinya gerhana dan menggunakan data ini untuk memprediksi gerhana. Karena itu, pada tahun 1691 Edmund Halley menamakan selisih waktu antara kejadian gerhana dengan istilah Babilonia, yaitu “Saros”.

Pada situs web NASA terdapat halaman Eclipses and The Saros, lalu penganut Bumi datar menyimpulkan bahwa NASA menggunakan Siklus Saros untuk memprediksi terjadinya gerhana. Mereka ciptakan skenario bahwa NASA —lembaga dengan anggaran milyaran USD— tidak dapat menghitung gerhana dengan cara modern, tetapi menggunakan teknologi Babilonia dari 2500 tahun yang lalu. Mereka salah. NASA tak menggunakan Siklus Saros untuk memprediksi gerhana.

Lanjutkan membaca “Siklus Saros dan Prediksi Gerhana”

Prediksi Gerhana Tak Perlu Menggunakan Siklus Saros atau Melibatkan NASA

Saat ini komputer memiliki kemampuan proses yang sangat tinggi. Untuk itu, prediksi gerhana biasanya dilakukan dengan memanfaatkan kemampuan komputer tersebut. Prediksi dilakukan dengan cara menentukan posisi Bulan dan Matahari pada satu waktu, dan menghitung apakah terjadi gerhana. Proses tersebut diulangi lagi berkali-kali untuk waktu yang berbeda.

Korban-korban dogma Bumi datar mempercayai tak ada yang bisa memprediksi gerhana dari perhitungan posisi Bulan dan Matahari. Mereka percaya NASA memprediksi gerhana dengan menggunakan siklus Saros, dengan cara menghitung selang waktu dari gerhana yang terjadi sebelumnya. Mereka salah.

Lanjutkan membaca “Prediksi Gerhana Tak Perlu Menggunakan Siklus Saros atau Melibatkan NASA”

Siklus Saros dan Deret Saros

Sebuah halaman di situs web NASA menjadi pusat perhatian para penganut paham Bumi datar. Halaman tersebut adalah buatan Fred ‘Mr. Eclipse’ Espenak yang menjelaskan mengenai siklus Saros. Berikut kutipan paragraf awal dari halaman tersebut:

The periodicity and recurrence of eclipses is governed by the Saros cycle, a period of approximately 6,585.3 days (18 years 11 days 8 hours). It was known to the Chaldeans as a period when lunar eclipses seem to repeat themselves, but the cycle is applicable to solar eclipses as well.

Betapa girangnya mereka apalagi setelah mengetahui bahwa Chaldean adalah peradaban dari 25 abad yang lalu. “Maka artinya NASA menggunakan teknologi 25 abad lalu untuk menghitung gerhana!!!11” pikir mereka. “Dan dengan demikian NASA tidak menggunakan hukum Newton untuk menghitung gerhana!!!!11”

Seperti kasus-kasus lain yang serupa, hal ini tentunya menceritakan lebih banyak mengenai penganut Bumi datar daripada mengenai NASA.

Lanjutkan membaca “Siklus Saros dan Deret Saros”

Selenelion: Fenomena Matahari dan Bulan Terlihat Bersamaan Saat Gerhana Bulan Total

“Matahari dan Bulan pernah terlihat di langit pada waktu yang sama saat sedang terjadi gerhana Bulan total. Hal ini tak dapat terjadi jika Bumi bulat karena Matahari, Bumi, dan Bulan seharusnya berada dalam garis lurus saat terjadinya gerhana Bulan total. Maka, model Bumi bulat itu salah!”

Beberapa penganut Bumi datar melihat bahwa Matahari dan Bulan terlihat pada saat yang sama saat terjadinya gerhana Bulan total. Sudah dapat diprediksi bahwa mereka akan menyimpulkan bahwa Bumi tidak bulat. Namun pada kenyataannya, fenomena ini terdokumentasi dengan baik dan dapat dengan mudah dijelaskan pada model Bumi bulat.

Lanjutkan membaca “Selenelion: Fenomena Matahari dan Bulan Terlihat Bersamaan Saat Gerhana Bulan Total”

Bulan Yang Tak Menjadi Gelap Pada Foto Gerhana Bulan Total

“Jika kita lihat foto-foto yang mengabadikan perkembangan berlangsungnya gerhana Bulan, Bulan terlihat berubah warna menjadi merah, tetapi tak berubah menjadi gelap. Karena itu gerhana Bulan total tak mungkin disebabkan oleh bayangan Bumi.”

Beberapa penganut Bumi datar —yang sepertinya belum pernah melihat langsung gerhana Bulan total— mengklaim hal tersebut.

Lanjutkan membaca “Bulan Yang Tak Menjadi Gelap Pada Foto Gerhana Bulan Total”

Fase Bulan dan Gerhana Bulan

Salah satu miskonsepsi yang rupanya sering beredar —bukan hanya di kalangan Bumi datar, tapi juga di masyarakat umum— adalah bahwa fase Bulan terjadi karena bayangan Bumi. Perbedaannya, di kalangan Bumi datar, miskonsepsi ini diinterpretasikan macam-macam.

Penjelasannya adalah fase Bulan yang kita lihat sehari-hari terjadi karena adanya siang dan malam di permukaan Bulan, dan bukan karena tertutup bayangan Bumi.

Lanjutkan membaca “Fase Bulan dan Gerhana Bulan”

Refraksi Atmosfer

Gelombang cahaya tidak selalu bergerak lurus. Apabila melewati medium yang indeks biasnya berbeda, gelombang cahaya akan membelok. Peristiwa ini dinamakan refraksi atau pembiasan, dan fenomena tersebut dijelaskan menurut Hukum Snell.

Atmosfer Bumi memiliki kerapatan dan temperatur yang tergantung dari ketinggian, sehingga indeks bias akan berbeda untuk ketinggian yang berbeda. Oleh karena itu gelombang cahaya yang melewati atmosfer Bumi juga mengalami refraksi.

Refraksi atmosfer adalah fenomena alam yang nyata. Masalahnya fenomena refraksi ini disalahgunakan oleh penganut Bumi datar untuk menjelaskan peristiwa terbenamnya Matahari.

Lanjutkan membaca “Refraksi Atmosfer”

Gerhana Bulan: Bukti Awal Bumi Bulat

Abad 5 sebelum Masehi, umat manusia sudah memprediksi bahwa Bumi berbentuk bulat berdasarkan pemikiran. Abad 4 sebelum Masehi, Anaxagoras membuktikannya melalui pengamatan pada gerhana Bulan. Anaxagoras adalah orang pertama yang berhasil memberikan penjelasan mengenai terjadinya gerhana Bulan, yaitu bahwa Bumi tepat berada di antara Matahari dan Bulan.

Anaxagoras berkesimpulan bahwa Bumi bulat dengan melihat bayangan Bumi pada bulan yang berbentuk melengkung.

Lanjutkan membaca “Gerhana Bulan: Bukti Awal Bumi Bulat”