Mengamati Satelit

Satelit tak sulit untuk diamati. Satelit dapat diamati dengan syarat-syarat ini:

  1. Semakin besar dan/atau semakin dekat, semakin mudah diamati.
  2. Semakin gelap langit, semakin mudah diamati.
  3. Hanya dapat diamati apabila terkena sinar Matahari.

Karena itu, satelit umumnya terlihat beberapa jam setelah Matahari terbenam dan beberapa jam sebelum Matahari terbit.

Kaum Bumi datar mengklaim satelit tak dapat dilihat, dan menjadikannya sebagai bukti satelit tidak ada. Mereka salah. Satelit dapat dilihat apabila kondisinya tepat.

Satelit tak memiliki cahaya sendiri, karena itu hanya dapat terlihat jika disinari sinar Matahari. Masalahnya, saat siang hari, satelit sulit diamati karena langit akan sangat terang. Saat yang tepat untuk mengamati adalah saat Matahari sedikit di bawah horizon, yaitu setelah terbenam dan sebelum terbit. Pada saat itu satelit mendapat sinar Matahari, tetapi langit cukup gelap untuk dapat mengamati satelit.

Rata-rata satelit berukuran jauh lebih kecil daripada pesawat terbang. Satelit umumnya berukuran tak lebih besar daripada bus kecil. Sedangkan ketinggiannya berlipat-lipat kali lebih jauh daripada pesawat. Semakin dekat dan semakin besar, satelit akan lebih mudah dilihat. Satelit akan terlihat seperti bintang yang bergerak cepat.

Ada kaum Bumi datar yang memberi syarat satelit harus dapat terlihat jelas seperti pesawat dengan mata telanjang sebelum mereka mengakui keberadaan satelit . Untuk itu kita ambil contoh ISS. ISS  berukuran sebesar lapangan sepakbola, tetapi jaraknya sama dengan jarak Jakarta ke Semarang.  Tentunya tidak realistis objek sebesar lapangan sepakbola dapat terlihat detailnya dengan jelas dari jarak Jakarta-Semarang dengan menggunakan mata telanjang. Dengan mata telanjang, ISS akan terlihat seperti bintik terang yang bergerak di langit.

Situs-situs seperti heavens-above.com memberikan prediksi saat yang tepat untuk dapat mengamati satelit.

Referensi