Lengkungan Air

Tema yang sering didengungkan oleh penganut Bumi datar adalah lengkungan air. Menurut mereka, lengkungan pada air tidak dapat diamati, maka disimpulkan bahwa Bumi datar.

Masalah dari argumentasi demikian adalah pada umumnya air yang diamati sangat sedikit. Air di gelas, di ember atau di waterpas akan praktis terlihat rata. Bukan karena tidak ada lengkungan akibat gravitasi Bumi, melainkan karena air terlalu sedikit sehingga lengkungan terlalu kecil dan tidak mungkin bisa diamati, apalagi dengan mata telanjang.

Lanjutkan membaca “Lengkungan Air”

Matahari Terbenam, Zoom Kamera dan Auto-Exposure

Ada beberapa video yang beredar di komunitas korban paham Bumi datar. Dalam video ini diperlihatkan bahwa Matahari terlihat terbenam, tapi setelah dilakukan zoom, ternyata Matahari belum terbenam. Konon, hal ini dijadikan ‘bukti’ bahwa Matahari hanya kelihatan terbenam, tapi sebenarnya menjauh.

Tentu saja ada penjelasan yang lebih masuk akal. Seperti pada kasus lainnya yang serupa, semuanya bersumber pada ketidaktahuan mereka mengenai fotografi.

Lanjutkan membaca “Matahari Terbenam, Zoom Kamera dan Auto-Exposure”

Efek Refraksi Atmosfer Terhadap Matahari Terbit dan Terbenam

Jika Bumi datar, maka seharusnya Matahari akan terlihat dari seluruh Bumi, dan tidak akan pernah terbenam. Untuk itu, demi menyelamatkan teori Bumi datar, diciptakanlah sebuah ad-hoc hypothesis bahwa Matahari terbenam adalah akibat dari perspektif dan refraksi.

Untuk perspektif telah kami bahas sebelumnya. Sekarang mari kita telaah betulkah refraksi dapat menyebabkan Matahari terlihat terbenam.

Lanjutkan membaca “Efek Refraksi Atmosfer Terhadap Matahari Terbit dan Terbenam”

Refraksi Atmosfer

Gelombang cahaya tidak selalu bergerak lurus. Apabila melewati medium yang indeks biasnya berbeda, gelombang cahaya akan membelok. Peristiwa ini dinamakan refraksi atau pembiasan, dan fenomena tersebut dijelaskan menurut Hukum Snell.

Atmosfer Bumi memiliki kerapatan dan temperatur yang tergantung dari ketinggian, sehingga indeks bias akan berbeda untuk ketinggian yang berbeda. Oleh karena itu gelombang cahaya yang melewati atmosfer Bumi juga mengalami refraksi.

Refraksi atmosfer adalah fenomena alam yang nyata. Masalahnya fenomena refraksi ini disalahgunakan oleh penganut Bumi datar untuk menjelaskan peristiwa terbenamnya Matahari.

Lanjutkan membaca “Refraksi Atmosfer”

Perspektif: Tidak Membuat Matahari Terlihat Terbenam

Salah satu lubang menganga yang perlu ditambal pertama kali oleh penganut Bumi datar adalah fakta bahwa Matahari itu mengalami terbit dan terbenam sekali dalam satu hari. Jika Bumi datar, maka seharusnya Matahari akan terlihat dari mana saja, dan tidak akan pernah terjadi malam. Untuk menambal lubang besar ini, maka diciptakanlah sebuah ad-hoc hypothesis bahwa Matahari terbenam salah satunya adalah karena perspektif.

Dalihnya adalah bahwa benda terlihat mengecil mendekati horizon saat menjauh. Mereka kemudian melakukan ekstrapolasi sembarangan: jika terus menjauh, maka bukan hanya mendekati horizon, tapi juga akan melewati horizon dan tidak lagi terlihat.

Lanjutkan membaca “Perspektif: Tidak Membuat Matahari Terlihat Terbenam”

Menara Pengamat Pada Kapal

Kapal layar jaman dahulu dilengkapi dengan menara pengamat yang diletakkan di atas layar. Fungsinya adalah untuk memperjauh jangkauan pandangan yang terbatas akibat kelengkungan Bumi.

Lanjutkan membaca “Menara Pengamat Pada Kapal”

Archimedes dan Permukaan Fluida

Archimedes adalah ilmuwan abad 3 sebelum Masehi. Dia terkenal karena Prinsip Archimedes yang menjelaskan tentang gaya apung. Selain itu dia juga memiliki banyak penemuan-penemuan lainnya.

Namun tahukah kamu bahwa Archimedes menjelaskan Prinsip Archimedes dengan menggunakan model Bumi bulat? Lanjutkan membaca “Archimedes dan Permukaan Fluida”

Eratosthenes.eu: Menentukan Bentuk Bumi Dari Pengukuran Bayangan Matahari

Tahun 205 sebelum Masehi, Eratosthenes menghitung keliling Bumi dengan cara menghitung sudut Matahari melalui bayangan sebuah tongkat. Tahun 2005 sesudah Masehi, situs eratosthenes.eu dibuat, tujuannya agar percobaan Eratosthenes dapat dilakukan kembali oleh adik-adik siswa dan siswi SD-SMP di seluruh dunia untuk keperluan pendidikan.

Jika pada tahun 205 sebelum Masehi, Eratosthenes perlu melakukan perjalanan jarak jauh dari Alexandria ke Syene, maka siswa-siswi di seluruh dunia saat ini tidak perlu melakukannya. Melalui situs eratosthenes.eu, dua sekolah di tempat yang berbeda akan dipasangkan. Sekolah tersebut akan mendapatkan data sekolah pasangannya untuk keperluan perhitungan, demikian pula sebaliknya.

Lanjutkan membaca “Eratosthenes.eu: Menentukan Bentuk Bumi Dari Pengukuran Bayangan Matahari”

Jaringan Nirkabel WLAN Jarak Jauh dan Kelengkungan Bumi

Salah satu cara kita menikmati akses Internet adalah dengan menggunakan WiFi, biasa melalui access point yang hanya ada pada lokasi tertentu. Dengan antena khusus, sinyal WiFi dapat ditransmisikan dalam jarak yang sangat jauh, bahkan sampai ratusan km.

Lanjutkan membaca “Jaringan Nirkabel WLAN Jarak Jauh dan Kelengkungan Bumi”

Al-Biruni: BUKAN Penganut Bumi Datar

Salah satu modus operandi influencer Bumi datar adalah dengan dengan cara mencatut agama atau tokoh agama. Tujuannya adalah untuk mendekatkan paham ini dengan agama dan pengikut-pengikutnya. Karena di Indonesia agama terbesar adalah Islam, maka wajar apabila mereka mencari korban di kalangan umat Islam. Salah satu tokoh agama yang dicatut ini adalah Al-Biruni.

Tapi, tentu saja, sekali lagi, Al-Biruni bukanlah penganut paham Bumi datar.

Lanjutkan membaca “Al-Biruni: BUKAN Penganut Bumi Datar”

Eksperimen “Bedford Level” Membuktikan Lengkungan Bumi

Pada tahun 1870, Alfred Russel Wallace membuktikan kelengkungan Bumi, dan menjawab tantangan dari seorang penganut Bumi datar, John Hampden.

Lanjutkan membaca “Eksperimen “Bedford Level” Membuktikan Lengkungan Bumi”

Percobaan Eratosthenes: Pembuktian Bumi Bulat

Tahun 205 sebelum Masehi, ahli astronomi Eratosthenes berhasil menghitung diameter bumi dengan cara mengukur panjang bayangan matahari dari sebuah tiang di kota Alexandria. Pengukuran dilakukan saat matahari bisa menerangi sumur yang ada di kota Syene.

2222 tahun setelah percobaan Eratosthenes, penganut flat earth menyanggah percobaan Eratosthenes. Katanya percobaan ini bisa pula diaplikasikan dengan asumsi bumi datar.

Lanjutkan membaca “Percobaan Eratosthenes: Pembuktian Bumi Bulat”

Kelengkungan Horizon Pada Video Balon Stratosfer

Video balon stratosfer sering dijadikan ‘barang bukti’ oleh penganut Bumi datar untuk memperlihatkan bahwa ‘Bumi tidak memiliki lengkungan’.

Ironisnya, penulis telah melakukan analisis sederhana pada lebih dari dua lusin video balon stratosfer di YouTube, dan kesimpulannya adalah:  secara objektif ada lengkungan, dan sama sekali tidak sulit untuk mengamatinya, termasuk pada video ‘bukti’ yang disodorkan flatearther.

Lanjutkan membaca “Kelengkungan Horizon Pada Video Balon Stratosfer”

Kelengkungan Air di Bejana

Jika Bumi berbentuk bulat, dan air bisa menempel pada Bumi; mengapa air tidak menempel pada bola, padahal sama-sama berbentuk bulat?

Lanjutkan membaca “Kelengkungan Air di Bejana”

Jembatan Gantung dan Kelengkungan Bumi

Untuk sebagian besar bangunan buatan manusia, biasanya tidak dilakukan kompensasi kelengkungan Bumi. Untuk proyek yang meninggi, perencana hanya perlu memastikan pondasi datar, dan secara otomatis kelengkungan Bumi menjadi non faktor.

Untuk pengerjaan proyek yang memanjang, misalnya jalan tol, rel kereta api, atau parit, biasanya perbedaan ketinggian jauh lebih dominan daripada kelengkungan Bumi, dan dengan demikian kelengkungan Bumi tidak perlu diperhitungkan lagi.

Tetapi ada proyek dimana kelengkungan Bumi perlu diperhatikan, contohnya adalah jembatan gantung.

Lanjutkan membaca “Jembatan Gantung dan Kelengkungan Bumi”

Efek Coriolis dan Efek Eötvös Pada Sniper Jarak Jauh

Jika seorang sniper menembak sasaran jarak jauh, maka jika lokasinya berada di Bumi bagian utara, rata-rata hasilnya akan meleset ke kanan bidikan. Sebaliknya, jika berada di Bumi bagian Selatan, rata-rata hasilnya akan meleset ke kiri bidikan.

Lanjutkan membaca “Efek Coriolis dan Efek Eötvös Pada Sniper Jarak Jauh”

Foto dari Balon Udara Little Piggy – Bukti Bumi Datar?

Little Piggy adalah nama balon udara buatan IndianaCaver. Little Piggy mencapai ketinggian hampir 37 km, sebelum akhirnya meledak dan jatuh ke Bumi. Sebelum jatuh, Little Piggy merekam video yang diupload IndianaCaver ke channel YouTube-nya. Dari beberapa video ini, para penganut Bumi datar mencomot beberapa gambar dan menyimpulkan bahwa Bumi datar. Gambar ini kemudian menjadi viral, bahkan sampai saat ini.

Betulkah?

Lanjutkan membaca “Foto dari Balon Udara Little Piggy – Bukti Bumi Datar?”

Bukti Lengkungan Bumi: Gedung Turning Torso, Malmö, Swedia

‘Turning Torso’ adalah gedung setinggi 190m di kota Malmö, Swedia. Letaknya di sisi perairan (Selat Øresund). Di sisi lain selat ini terdapat kota Copenhagen, Denmark, yang hanya dipisahkan sekitar 15 km. Desain ‘Turning Torso’ sangat unik sehingga mudah diamati dari jarak jauh. Selain itu lantai di gedung ini dipisah menjadi 9 segmen sehingga ketinggian mudah diamati dari jarak yang sangat jauh sekalipun. Fakta-fakta ini menjadikan gedung ini menarik untuk jadi objek “penelitian” bentuk bumi.

Lanjutkan membaca “Bukti Lengkungan Bumi: Gedung Turning Torso, Malmö, Swedia”

Respon untuk Respon “Jadi, Mana Lengkungannya?”

Tulisan saya dengan judul “Jadi, Mana Lengkungannya?” direspon melalui meme sebagai berikut:

Masalah 1: Karena kecerobohan pembuat gambar, gambar tidak menggambarkan aspect ratio yang benar, sehingga lengkungan lebih besar daripada gambar aslinya. Gambar dari sumber aslinya kurang lebih seperti di bawah ini. Gambar tidak sama persis karena sumber asli merupakan video siaran langsung. Lanjutkan membaca “Respon untuk Respon “Jadi, Mana Lengkungannya?””

Jadi, Mana Lengkungannya?

(English version of this article)

“Jadi, mana lengkungannya?” Itu adalah pertanyaan klasik dari para penganut Bumi datar. Kelengkungan harus bisa dilihat secara subjektif, “Jika tidak maka tidak ada kelengkungan, titik!” Menggunakan alat-alat dan instrumen canggih bisa saja dianggap curang. Yang penting harus bisa dilihat dengan mata kepala sendiri, kalau tidak, maka tidak ada kelengkungan.

Lanjutkan membaca “Jadi, Mana Lengkungannya?”